Pengamat Ingatkan Iklim Demokrasi Belum Baik

Jumat , 12 Februari 2021 | 13:45
Pengamat Ingatkan Iklim Demokrasi Belum Baik
Sumber Foto dok/redaksiindonesia.com
Ilustrasi

JAKARTA - Direktur Eksekutif Moya Institut, Hery Sucipto mengingatkan iklim demokrasi di Indonesia saat ini belum bisa dikatakan baik mengingat beberapa indikator yang kurang berjalan.

Hery Sucipto, di Jakarta, Jumat (12/2/2021) mengatakan, itu karena Bangsa Indonesia kerap menggaungkan penegakan demokrasi dalam kehidupan sistem politiknya. Namun pada pelaksanaannya justru kontradiksi dengan cita-cita yang diinginkan tersebut.

"Iklim demokrasi kita (di Indonesia) nyatanya masih tampak buruk, seperti karena penerapan UU ITE. Belum lagi masalah adanya dinasti politik, perdebatan revisi UU Pemilu, tingginya korupsi," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah, menuturkan Indonesia dalam pelaksanaan demokrasi dan politiknya masih kental rasa kegamangan-nya. Akibatnya juga menimbulkan kebingungan dalam masyarakat.

Kekurangan lainnya dalam demokrasi Indonesia, kata Fahri yakni masih tingginya membuat konsep besar kebangsaan sehingga membuat perjalanan sejarah politik dan kepemimpinan kerap tersasar."Paling gampang-nya ingin membentuk akhir dari republik ini saja tidak tampak nyata, sehingga mudah tersasar," ucapnya.

Selanjutnya, juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Faldo Maldini mengungkapkan kegusarannya bila negara ke depan terjebak dalam jeratan pemilik dana karena partai politik dan politikusnya tak mampu menyelesaikan masalah di masyarakat."Ketika negara tidak mampu lagi selesaikan masalah maka pendana tinggal kucurkan anggarannya sehingga negara tak dapat melepaskannya," ujar Faldo.

Sedangkan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menyampaikan bahwa partai politik sangat memilki peranan dalam menjadikan demokrasi berkualitas.

Menurut Djayadi, partai politik haruslah berhubugan erat dengan masyarakat dalam pikiran serta kebijakan."Negara harus tanggap terhadap persoalan masyarakat. Partai politik bagi masyarakat adalah jembatan aspirasi," katanya.

Terakhir, pengamat politik internasional sekaligus mantan Diplomat senior, Imron Cotan, menuturkan dari waktu ke waktu Indonesia terus membutuhkan reformasi. Kendati begitu, kata Imron, ada kegamangan yang muncul."Masalahnya reformasi yang terjadi tidak merumuskan kontrak sosial baru, akhirnya ada kegamangan dalam kebangsaan kita," ujarnya.

Supaya kegamangan tersebut sirna, Imron menyarankan, dibuatnya konsep tatanan baru dalam reformasi yang sesuai dengan prinsip Pancasila.(*)



Sumber Berita: Antara
KOMENTAR

End of content

No more pages to load