Megawati: PDIP Tak Butuh Kader Oportunis

Sabtu , 31 Oktober 2020 | 20:58
Megawati: PDIP Tak Butuh Kader Oportunis
Sumber Foto dok/ist
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

JAKARTA - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengatakan banyak melakukan pemecatan terhadap kadernya yang hanya mencari keuntungan di partai. Dia menyebut ada kadernya yang berniat masuk partai untuk maju sebagai kepala daerah.

"Hari-hari ini saya banyak melakukan pemecatan. Tidak peduli saya. Karena mereka tidak puas sebagai anggota PDIP, langsung hengkang. Silakan, saya pecat, " kata Megawati dalam acara virtual Rapat Koordinasi Bidang Kebudayaan DPP & DPD PDI Perjuangan se-Indonesia, Sabtu (31/10/2020).

"Monggo, pilihan Anda mau ke mana. Hanya karena tidak dipilih sebagai calon. Banyak banget. Untung sekarang sudah agak reda. Yang pergi tidak hanya bawa 1-2 orang. Monggo. Saya lebih senang begitu. Itu dalam dalam rangka konsolidasi lebih baik. Orang seperti itu, menurut saya bukan kader, tapi oportunis. Hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri untuk masuk dalam organisasi," tuturnya.

Mantan Presiden ke-5 RI ini menegaskan tidak membutuhkan kader PDIP yang oportunis. Ia meminta kader yang masuk partai hanya mencari keuntungan untuk mengundurkan diri.

"Maka saya bilang, jangan manjakan milenial. Apa baktinya untuk negeri? Milenial tahun 80-lah. Ya kalian-kalian ini mungkin masih ada yang masuk. Ya terus mejeng-mejeng doang, ngamuk saya. Harus berbuat. Kalau tidak, ya monggo mundur saja dari partai ini. Cari makan bisa kok di tempat lain, jadi pengusaha dan lain-lain," ungkap Megawati.

Ia mengatakan, tidak sedikit kader yang ingin menjadi kepala daerah. Bahkan ada yang sampai menyogok agar bisa diloloskan menjadi kepala daerah."Ini kan persoalan sekarang, semua kepingin jadi kepala daerah, bayar dibayar, aduh gila juga deh," katanya.

Dia emudian mengungkapkan pemberitaan sebuah media mengenai sejumlah kekayaan pribadi dari kader beberapa partai. Megawati menilai PDIP berada di bawah Partai Gerindra dan Partai Golkar."Ini keluar di Kompas, kekayaan dari anggota partai. Kita kalau enggak salah nomor, masih di bawah Golkar, Gerindra nomor satu. kekayaan pribadi loh bukan partai yang mau jadi, jadi opo," ujarnya.

"Ya nggak apa-apa, ini di, saya mikirnya ini tertutup? Engga. Saya sudah siap deh di-bully. Padahal omongan saya ini bener loh buat republik ini loh. Kebayang nggak kalau nanti yang Namanya, orang itu, lihat aja di Kompas hari ini," ia menambahkan.(*)



Sumber Berita: Detik.com
KOMENTAR

End of content

No more pages to load