Connie: Kalau Terbuka, Itu Langgar Prinsip Dan Hukum Intelijen

Minggu , 13 September 2020 | 11:36
Connie: Kalau Terbuka, Itu Langgar Prinsip Dan Hukum Intelijen
Sumber FotoCNN Indonesia
Ilustrasi

JAKARTA--Dunia intelijen Indonesai digemparkan dengan suatu video unggahan Ketua MPR Republik Indonesia Bambang Soesatyo dalam lini massa Instagram dengan menyebutkan “Pasukan Khusus Rajawali BIN”, pada Rabu (9/9). Spekulasi miring tentang pernyataan Bambang Soesatyo ini menimbulkan bermacam spekulasi di berbagai kalangan, termasuk kalangan intelijen dan militer.

Akademisi dan peneliti masalah pertahanan, Connie Rahakudine Bakrie, mengaku tidak mengetahui selama ini BIN memiliki pasukan khusus bernama Rajawali.

“Saya hanya ingin menjawab dengan sederhana. Dia (BIN) mau punya kapal bisa terbang, kapal bisa nyelem, mobil bisa dibuka dan melesat seperti petir, dan apa pun dia mau punya. Kalau itu sudah terbuka ke orang, jangankan di suatu acara seperti itu, ke satu orang saja, itu sudah melanggar prinsip dan hukum dari intelijen," kata Connie kepada RRI.co.id, Sabtu (12/9/2020) malam.

"Which is kerahasiaan, kesenyapan, kesilumanan. Itu, nomor satu,” lanjut dia.

Dalam unggahan video Bambang Soesatyo (Bamsoet) di Instagram, ditulis, “Inagurasi Peningkatan Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Plaza STIN, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/9/2020)”.

Connie kembali mempertanyakan “atraksi”, dan “pasukan khusus BIN” yang dimaksud Bamsoet. “Nomor dua, itu (BIN, red) punya pasukan khusus. Untuk apa punya pasukan khusus? Kalau buat dia (anggota BIN, red) bersenjata, itu memang harus. Setahu saya, enggak ada (pasukan khusus BIN, red). Apa dasarnya?,” kata Connie dengan penuh tanya.

Dikutip dari rri.co.id, video unggahan Bamsoet itu menunjukkan seluruh anggota pasukan khusus itu mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan helm, kaca mata hitam, dan senjata laras panjang. Mereka beraksi di hadapan para tamu, termasuk beberapa jenderal TNI.

“Nomor tiga, saya waktu sekolah di Inggris itu, sering mewawancarai MI5, MI6 (Badan Intelijen Inggris Raya (UK), red). Dan selama saya bertemu mereka (para intelijen, red) yang diatur kampus saya, di Birmingham University. Saya tidak pernah tahu nama orangnya saja,” ungkap Connie.

Bahkan, Connie mengaku selama melakukan studi intelijen di Inggris, dia hanya mendapatkan nama dari MI5 dan MI6 dengan nama samaran. “Misalnya, saya disuruh ketemu dengan Direktur MI5, namanya Mr.M Seven (tujuh, red). Nanti ketemu Director of Asia Pacific, namanya Mr. X Seven. Jadi, selama saya rapat, wawancara, dan sampai sekarang, saya tidak tahu nama dia (para intelijen Inggris, red). Karena, enggak boleh, itulah intelijen,” terang dia.

Dia juga menyebut, seorang intelijen tidak boleh ketahuan nama dan wajah. “Ini coba. Jangankan senjata, dan lain dilihatin (termasuk wajah, red). Jadi menurut saya, sangat disayangkan, BIN ini setahu saya dipegang (dikepalai, red) Pak BG (Budi Gunawan) dananya enggak terbatas karena betul betul dibangun profesional,” kata Connie.

Tapi, kata dia, itu semua berujung “mentalitas melayu”. “Kenapa? Jadi, semua alat peralatan semahal apa pun yang dibeli (BIN, red) menurut saya, (itu, red) menjadi percuma. Dengan kita akhirnya membuka ke dunia, bahwa kita itu siapa. Karena aku enggak pernah melihat orang intelijen seperti itu (Pasukan Khusus Rajawali BIN, red),” kata dia.

 



Sumber Berita: rri.co.id
KOMENTAR

End of content

No more pages to load