Pria Penendang Sesajen di Semeru Tertangkap

Jumat , 14 Januari 2022 | 06:57
Pria Penendang Sesajen di Semeru Tertangkap
Sumber Foto dok/Instagram/@kabarindo
Pria penendang dan membuang sesajen di desa terdampa erupsi Gunung Semeru.

JAKARTA - Polisi telah menangkap orang yang menendang dan membuang sesajen di desa terdampak semeru Gunung Semeru. Aksi menendang sesajen di Lumajang yang dilakukan pria itu sempat viral di media sosial dan menuai kecaman.

"Alhamdulillah berhasil diamankan," kata Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Yekti Hananto Seno, Jumat (14/1/2022).

Ia mengatakan, orang yang ditangkap lantaran menendang dan membuang sesajen itu adalah Hadfana Firdaus. Dia ditangkap oleh jajaran dari Direktorat Reserse Kriminal Polda Jawa Timur di Bantul."Dari Ditreskrim yang berhasil mengamankan, di-back up penuh kita sama Polda Jatim," ujarnya.

Aksi seseorang yang menendang dan membuang sesajen di desa terdampak erupsi Semeru itu menuai kecaman dari berbagai pihak lantaran dinilai tidak menghormati keyakinan dan kultur masyarakat setempat.

Bupati Lumajang Thoriqul pun berang. Dia meminta masyarakat serta aparat untuk menangkap orang yang menendang sesajen buatan warga di desa terdampak erupsi Semeru. Setelah itu, polisi bergerak.

"Saya minta semua teman-teman, baik aparat maupun relawan di sana untuk mencari. Sampai sekarang belum ketemu, saya minta segera ketemu," kata Thoriq di Gedung Grahadi seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Polda Jatim melakukan pencarian sampai ke Lombok Timur Polda NTB. Hal itu dilakukan karena ada informasi bahwa yang bersangkutan adalah relawan dari NTB.

Polda Jatim pun mengimbau agar seluruh elemen dan masyarakat bisa menghargai tradisi dan kepercayaan satu sama lain. Menjaga Kabupaten Lumajang yang telah damai dengan tidak membuat video bermuatan meyinggung SARA.

"Karena kan selama ini Lumajang sudah mulai damai, mulai aman, mulai bagus. Jangan sampai dirusak dengan video-video yang mengandung SARA dan kita harus menghormati kearifan lokal daerah situ," kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko.(*)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load