Setelah Dibui Seumur Hidup Kini Heru Dituntut Hukuman Mati

Selasa , 07 Desember 2021 | 22:05
Setelah Dibui Seumur Hidup Kini Heru Dituntut Hukuman Mati
Sumber Foto Dok/Istimewa
Heru Hidayat

JAKARTA --Bos PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat dituntut hukuman mati oleh jaksa  dalam kasus korupsi PT Asabri. Ia dinilai terbukti terlibat dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan dan investasi PT Asabri (Persero) yang merugikan negara Rp22,7 triliun.

"Menyatakan terdakwa Heru Hidayat terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan pemberatan secara bersama-sama dan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dalam dakwaan primer dan kedua primer, menghukum terdakwa Heru Hidayat dengan pidana mati," kata Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung dilansir dari Antara, Selasa (7/12).

Jaksa juga meytakini Heru telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) sehingga pantas divonis hukuman mati. . Oleh karena itu, jaksa menuntut Heru Hidayat dengan pidana mati. Sebelumnya, dalam kasus korupsi PT Jiwasraya, Heru Hidayat dihukum penjara seumur hidup[ bersama lima terdakwa lainnya. 

Selain dituntut hukuman mati, Heru Hidayat juga diwajibkan membayar pidana pengganti. "Membebankan terdakwa dengan biaya pengganti sebesar Rp12,643 triliun dengan ketentuan jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya akan disita oleh kejaksaan dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut dan jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk menutupi uang pengganti tersebut," kata jaksa.

 

 

Jaksa meyakini Heru Hidayat mendapat keuntungan tidak sah dari pengelolaan saham PT Asabri sebesar Rp 12,6 triliun. Keuntungan itu disamarkan oleh Heru Hidayat dengan pembelian aset. Atas dasar itu jaksa meyakini Heru terbukti melakukan TPPU.

Jaksa menilai hukuman mati pantas diterima Heru Hidayat lantaran juga terlibat dalam tindak pidana korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Dalam kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya, Heru dihukum penjara seumur hidup karena kerugian negaranya lebih dari Rp 16 triliun.

Heru, lahir di Surakarta pada 15 Maret 1973, tercatat pernah menjadi Presiden Komisaris PT Inti Agri Resources Tbk, Presiden Komisaris PT Maxima Integra Investama, Direktur PT Maxima Agro Industri, dan Presiden Komisaris PT Gunung Bara Utama. Ia juga pernah menjabat Presiden Komisaris PT Inti Kapuas Arwana Tbk. Namun, jabatan tersebut hanya ia emban selama delapan bulan, hingga berakhir pada Desember 2005.

 

Kendati demikian, di saat yang sama, Heru juga bekerja sebagai Direktur PT Plastpack Ethylindo Prima pada 2000-2005, Presiden Direktur PT Inti Indah Karya Plasindo (2004-2005), dan Direktur PT Inti Kapuas Arowana (2004-2005).

Akibat terjerat kasus korupsi Jiwasraya dan Asabri, harta kekayaan Heru Hidayat mulai dari kapal hingga tanah telah disita dan dilelang oleh negara.

Direktur Penyidikan Direktorat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Febrie Adriansyah menyatakan ada 20 kapal yang telah disita. Ia juga memiliki kapal pengangkut gas alam cair atau Liquefied natural gas (LNG) terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu, kata Febrie, penyidik juga telah menyita tanah milik Heru Hidayat dengan luas sekitar 23 hektare.

 

Menurut jaksa, hasil korupsinya digunakan antara lain untuk bermain judi kasino di Resort World Sentosa Singapura, Marina Bay Sand Singapura dan SkyCity di New Zealand.

 

Dalam kasus korupsi PT Jiwasraya, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta telah menguatkan putusan Pengadilan Negara dengan hukuman penjara seumur hidup. Ia juga harus membayar uang pengganti sebesar Rp10,73 triliun.

Selain Heru, lima terdakwa kasus korupsi Jiwasraya juga dihukum penjara seumur hidup. Mereka, mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto dan Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro.

 

 

 

 

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load