Polda Jatim Ungkap Penjualan Tabung Oksigen Lebihi HET

Senin , 12 Juli 2021 | 13:17
Polda Jatim Ungkap Penjualan Tabung Oksigen Lebihi HET
Sumber Foto Antara/Willy Irawan
Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta (dua kiri) menunjukkan tabung oksigen yang dijual melebihi harga eceran tertinggi saat merilis kasus itu di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (12/7/2021).

SURABAYA - Polda Jawa Timur (Jatim) mengungkap adanya dugaan penjualan tabung oksigen melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dengan mengamankan tiga orang saksi asal Sidoarjo berinisial, AS, FR dan TW.

Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta saat merilis kasus tersebut di Surabaya, Senin (12/7/2021) mengatakan, kasus ini bermula ketika AS membeli tabung oksigen beserta isinya dari PT NI dengan harga Rp700 ribu dan menjualnya kepada FR seharga Rp1,35 juta, padahal HET tabung oksigen senilai Rp750 ribu.

AS dalam aksinya dibantu TW, yang merupakan adik kandung AS dan memasarkan tabung oksigen beserta isinya ukuran satu meter kubik melalui akun facebook dan juga WhatsApp Group.

"Saat ini banyak masyarakat yang butuh oksigen dan di sisi lain ada yang cari keuntungan. Sehingga akan terjadi kelangkaan. Dengan hal ini ada dua hal yang dilanggar, ketersediaan tabung oksigen dan harga melebihi HET," ujarnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dengan membeli tabung oksigen dan obat-obatan kalau tidak perlu. Apalagi jika obat dan tabung oksigen itu dijual kembali.

Sebab, kata Kapolda, pemerintah sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan masyarakat ketika terinfeksi Covid-19."Kami akan koordinasi dengan supaya distribusi tabung oksigen dan juga obat-obatan berjalan lancar," ucapnya.

Dalam perkara ini, Polda Jatim mengamankan sebanyak 129 tabung oksigen berbagai ukuran dalam kurun waktu 3 Juli hingga 8 Juli 2021.

Perkara ini diatur dalam Pasal 62 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal tersebut, berbunyi bahwa pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2) dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.(*)

 



Sumber Berita: Antara
KOMENTAR

End of content

No more pages to load