Calon Kapolri, Ini Masukan Kompolnas ke Jokowi

Jumat , 20 November 2020 | 13:04
Calon Kapolri, Ini Masukan Kompolnas ke Jokowi
Sumber Foto Detik.com
Juru Bicara Kompolnas Poengky Indarti.

JAKARTA - Wacana pergantian Kapolri semakin mengemuka menjelang Jenderal Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun pada awal 2021. Kompolnas nantinya akan memberikan sejumlah pertimbangan kepada Presiden Jokowi terkait jejak rekam calon Kapolri.

"Kompolnas akan melihat data track record dan prestasi calon-calon Kapolri, dan akan memberikan pertimbangan kepada Presiden untuk calon-calon yang track record dan prestasinya terbaik," kata juru bicara Kompolnas, Poengky Indarti kepada wartawan, Jumat (20/11/2020).

Poengky lantas membeberkan sejumlah aturan mengenai pergantian Kapolri dan tugas Kompolnas. Menurut dia, pertimbangan Kompolnas yang akan disampaikan kepada Presiden harus merujuk ke pasal 11 ayat (6) UU nomor 2 tahun 2002.

"Sedangkan untuk pergantian Kapolri, berdasarkan UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 38 ayat (1) huruf b Kompolnas bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian Kapolri," ujar Poengky.

"Merujuk pasal 11 ayat (6) UU nomor 2 tahun 2002 maka calon Kapolri adalah perwira tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan karier. Oleh karena itu nantinya ketika memberikan pertimbangan kepada Presiden maka kami berpedoman pada pasal 11 ayat (6) UU nomor 2 tahun 2002," tuturnya.

Poengky menjelaskan jenjang kepangkatan yang dimaksud di atas adalah prinsip senioritas dalam arti penyandang pangkat tertinggi di bawah Kapolri. Selain itu, jenjang karier juga termasuk dalam pertimbangan."Sedangkan yang dimaksud dengan jenjang karier ialah pengalaman penugasan dari perwira tinggi calon Kapolri pada berbagai bidang profesi Kepolisian atau berbagai macam jabatan di Kepolisian," ujarnya.

Poengky juga menanggapi terkait rotasi besar-besaran yang dilakukan Kapolri Jenderal Idham Azis. Menurut dia, rotasi tersebut merupakan hal yang biasa dalam tubuh Polri.

"Rotasi besar-besaran yang baru terjadi setahu saya hanya mutasi biasa, Mas. Tour of duty. Ada yang pensiun sehingga harus diganti, ada yang sekolah sehingga harus digantikan dengan yg lain, ada yang sudah dianggap cukup bertugas di satu tempat dan perlu dimutasi ke tempat lain untuk penyegaran dan pembinaan karier, serta ada juga yang reward & punishment. Misalnya untuk punishment adalah Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jabar," ujar Poengky seperti dilansir detik.com.

Rotasi Singkirkan Sejumlah Figur

Sebelumnya, Indonesia Police Wacth (PIW) mengungkap peta terbaru calon Kapolri pengganti Jenderal Idham Azis. IPW menilai rotasi tersebut telah menyingkirkan sejumlah figur dari bursa Kapolri.

"Rotasi yang dilakukan Idham Azis kemarin telah membuat perubahan dalam peta bursa calon Kapolri. Ada figur yang tersingkir dan ada figur baru yang muncul dan berpeluang masuk ke dalam bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangannya, Jumat (20/11).

Dia juga menyoroti sejumlah orang dekat Jenderal Idham Azis yang bergeser ke posisi strategis. Di sisi lain, rotasi besar-besaran ini juga telah menyingkirkan 'Geng Solo' dalam suksesi Kapolri. Namun Neta tak menyebut nama jenderal yang masuk ke dalam apa yang disebutnya sebagai geng-geng tersebut.

"IPW menilai 'teriakan' presiden tentang kerumunan massa Rizieq dimanfaatkan Idham untuk melakukan rotasi dalam rangka menyongsong suksesi Kapolri. Dalam hal ini Idham bisa dinilai telah menggeser kekuatan Geng Solo yang selama ini disebut sebut sebagai calon kuat dalam bursa kapolri. Namun penggeseran Geng Solo itu atas restu Istana. Tergusurnya anggota Geng Solo otomatis memperkuat Geng Makassar serta memberi peluang bagi Geng Pejaten," ujar Neta.

"Dengan demikian peristiwa kerumunan massa Rizieq telah dimanfaatkan untuk mengubah peta kekuatan di internal Polri untuk menyongsong suksesi Kapolri pada Januari 2021. Meski penentuan calon Kapolri adalah hak prerogatif presiden Jokowi tapi masing-masing kekuatan di internal polri berusaha mencari peluang dan bermanuver menyuguhkan calon calon terbaik dari kubunya. Penyuguhan calon calon terbaik itu dilakukan dengan cara menempatkan figur-figur tersebut di posisi strategis," ia menyatakan.

Kendati demikian, Neta menganggap bursa Kapolri pengganti Jenderal Idham Azis saat ini masih belum bisa diprediksi dengan jelas. Pasalnya, kata dia, rotasi para jenderal juga akan terjadi pada bulan depan.

"Masih terlalu cairnya bursa calon Kapolri ini dikarenakan masih akan adanya mutasi jenderal bintang tiga yang akan pensiun pada Desember mendatang. Pada posisi Desember ada dua posisi jenderal bintang tiga yg kosong, yakni pensiunnya Sestama Lemhanas dan Kepala BNN. Dengan demikian akan ada dua jenderal bintang dua polri yang akan naik menjadi bintang tiga," ia menambahkan.

Berikut nama-nama Pati Polri yang selama ini disebut-sebut masuk bursa calon Kapolri:

1. Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen
Gatot Eddy Pramono (Angkatan 1988 A)
2. Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Komjen Agus
Andrianto (Angkatan 1989)
3. Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Listyo Sigit Prabowo
(Angkatan 1991)
4. Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Komjen Rycko
Amelza Dahniel (Angkatan 1988 B)
5. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy
Rafli Amar (Angkatan 1988 A)
6. Kapolda Jawa Barat Irjen Ahmad Dofiri (Angkatan 1989)
7. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran (Angkatan 1991)
8. Dankor Brimob Irjen Anang Revandoko (Angkatan 1988 B).(*)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load