KPK Kesulitan Tangkap Harun Masiku

Kamis , 20 Februari 2020 | 07:40
KPK Kesulitan Tangkap Harun Masiku
Sumber Foto dok/ist
KPK

JAKARTA - Hingga kini buronan politikus PDI Perjuangan (PDIP) Harun Masiku belum juga tertangkap. Kali ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beralasan hal itu karena yang bersangkutan tidak bermain di media sosial (medsos) dan telepon genggam (HP).

Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri menyatakan hal itu di kantornya, Rabu (19/2/2020) malam. Ia mengatakan pihaknya sulit menemukan keberadaan buronan Harun Masiku termasuk mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi Abdurrachman lantaran keduanya tidak menggunakan telepon seluler.

Harun Masiku merupakan tersangka kasus suap PAW anggota DPR Fraksi PDIP. Sementara Nurhadi Abdurrachman adalah eks Sekretaris Mahkamah Agung yang juga tersangka suap perkara perdata.

"Jika seseorang menggunakan hp (handphone) itu sangat mudah sekali, atau menggunakan media sosial aktif mudah sekali. Faktanya kan tidak seperti itu," kata Ali kepada wartawan di Kantornya, Jakarta, Rabu (19/2/2020) malam.

Ali mengklaim pihaknya berkomitmen menangkap kedua tersangka tersebut. Sebab, kata dia, KPK memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan berkas perkara sebelum dilimpahkan ke pengadilan.

"Pun kalau tidak ditemukan, itu akan jadi tanggung jawab karena untuk menyelesaikan berkas perkara dan disidangkan, ya, harus ditemukan," ucapnya seperti dilansir cnnindonesia.com.

Ia mengatakan KPK juga membuka pintu terhadap informasi dari masyarakat mengenai keberadaan kedua tersangka itu. Setiap informasi pasti akan ditindaklanjuti oleh penyidik.

Disinggung informasi keberadaan Nurhadi di apartemen mewah di Jakarta dari Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar, Ali memastikan penyidik telah bergerak merespons informasi tersebut. Bahkan, kata dia, pencarian buronan tidak hanya di sebatas satu tempat.

"Tapi, sampai dengan malam ini Harun dan Nurhadi belum didapatkan," tandasnya.

Sebelumnya, Haris Azhar menyatakan telah mengetahui keberadaan Nurhadi di salah satu apartemen mewah yang berada di Jakarta. Ia menyebut KPK sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Nurhadi namun tidak berani menangkapnya. Nurhadi, menurut dia, mendapat perlindungan yang disebutnya golden premium protection.

"DPO formalitas karena KPK enggak berani tangkap Nurhadi dan menantunya [Rezky Herbiyono]. Jadi status itu. Jadi, kan, lucu," kata Haris di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (18/2/2020).(*)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load