Perkara Obstruction of Justice, Hendra Kurniawan Dituntut Hukuman Tiga Tahun Penjara

- Jumat, 27 Januari 2023 | 19:17 WIB

Mantan Karo Paminal Hendra Kurniawan menjalani sidang sebagai terdakwa di Pengadilan Negari Jakarta Selatan (dok/jabotabekupdate.com)

SINAR HARAPAN--Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut mantan Karo Paminal Mabes Polri Hendara Kurniawan hukuman tiga tahun penjara dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negarai Jakarta Selatan, Jumat (27/1/2023).

Hendra dituduh melakukan perintangan penyidikan (pbstruction of justice) kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (J) di Duren Tiga 46, Jakarta Selatan (Jaksel) Juli 2022.

Jaksa juga meminta majelis hakim menghukum pecatan Polri dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) itu pidana denda senilai Rp 20 juta subsider 3 bulan kurungan.

 

“Menuntut agar majelis hakim menyatakan terdakwa Hendra Kurniawan bersalah, karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan apapun yang mengakibatkan terganggunya sistem elektronik, atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya,” kata jaksa.

Hendra dinilai terbukti melakan tindak pidana dalam Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-undang (UU) 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Jaksa juga menuntut terdakwa Arif Rachman Arifin (ARA) selama 1 tahun penjara dan terdakwa Chuck Putranto (CP) selama 2 tahun penjara. Sedangkan terdakwa Baiquni Wibowo (BW), juga dituntut selama 2 tahun penjara.Terdakwa Irfan Widyanto (IW) 1 tahun penjara. Terdakwa Agus Nurpatria (ANT) selama 3 tahun penjara.

Sebelumnya jaksa, juga menuntut Ferdy Sambo selama penjara seumur hidup lantaran melakukan perintah perintangan penyidikan, dan pelaku, serta dalang pembunuhan berencana Brigadir J.

Hendra adalah anak buah Ferdy Sambo saat menjabat sebagai Kadiv Propam Polri. Dalam sidang perkara pembunuhan berencana, diketahui bahwa Sambo memerintahkan Hendra sebagai bawahan untuk datang ke lokasi pembunuhan Duren Tiga 46, pada Jumat (8/7/2022).

Hendra diminta untuk melakukan pengamanan CCTV di lokasi pembunuhan, dan di rumah tinggal Keluarga Sambo di Saguling III 29, Jaksel. Hendra memerintahkan para terdakwa lain untuk melaksanakan perintah Sambo tersebut.

Menurut jaksa, Hendra memerintahkan terdakwa Agus Nurpatria yang saat itu selaku Kaden A Biro Paminal Polri dengan pangkat Kombes untuk melaksanakan perintah Sambo mengamankan CCTV. Terdakwa ANT, pun terbukti memerintahkan terdakwa Irfan Widyanto yang saat itu sebagai Kasubdit Subuni III Dittipium Bareskrim Polri dengan pangkat AKP untuk melakukan penyisiran CCTV di dua lokasi perkara di Duren Tiga 46, dan di Saguling III 29.

Terdakwa Irfan Widyanto, bersama-sama terdakwa Chuck Putranto melakukan penyisiran CCTV di lokasi perkara pembunuhan, dan mengambil, serta menyimpan DVR. Keduanya disebut tanpa izin melakukan pengambilan CCTV dan DVR tersebut.

Lalu Irfan bersama Chuck bersama-sama menyimpan CCTV dan DVR tersebut. Padahal diketahui CCTV dan DVR tersebut adalah barang bukti elektronik tindak pidana kejahatan pembunuhan Brigadir J. Namun, barang bukti tersebut tak diserahkan ke penyidik yang melakukan penyidikan kasus pembunuhan tersebut.

Sementara, terdakwa Arif Rachman yang mengetahui rekaman CCTV dan DVR tersebut melakukan duplikasi pada komputer jinjing milik terdakwa Baiquni Wibowo (BW). Terdakwa Ari Rachman, bersama terdakwa Chuck Putranto, dan terdakwa Baiquni Wibowo, pun sempat menonton isi CCTV dan DVR tersebut.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X