• Rabu, 7 Desember 2022

Penggunaan Gas Air Mata Dalam Tragedi Kanjuruhan Dipertanyakan. Aturan FIFA Melarangnya

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:55 WIB

(Foto: tribunnews.com)

SINAR HARAPAN--Tragedi stadion Kanjuruhan di Malang sungguh mengerikan. Jumlah korban tewas terbilang paling banyak dalam sejarah sepakbola dunia karena lebih banyak dibandingkan tragedi Hillsborough, Inggris.

Menurut catatan polisi, setidaknya 127 orang meninggal dalam tragedi Kanjuruhan, sedangkan 180 korban masih dirawat di rumah sakit.  Di stadion ini sebelumnya pernah terjadi kerusuhan ketika Arema FC melawan Persib Bandung, namun korbannya hanya satu orang dan puluihan yang terluka.

Kali ini 127 orang dinyatakan tewas. Menurut catatan, angka ini lebih besar dibandingkan tragedi Hillsborough di Inggris tahun 1989 yang menyebabkan tewasnya 96 orang meninggal dunia, semuanya pendukung Liverpool.

Baca Juga: 127 Orang Meninggal Dunia Akibat Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur

Di stadion Kanjuruhan para suporter Arema FC rupanya sangat kecewa. Timnya kalah 2-3, setelah selama 23 tahun Singo Edan tidak pernah kalah oleh tim Bajul Ijo. Dua tim elit di Jawa Timur ini memang selalu bersaing selama bertahun-tahun.

Kenapa kali ini kalah? Padahal bermain di kandang sendiri? Para suporter Singo Edan kemudian merangsek ke dalam lapangan meluapkan kekecewaan mereka terhadap pemain dan ofisial Arema.

Dari 40.000 penonton yang memadati stadion, diperkirakan sekitar 3.000 turun ke lapangan. Situasi tidak terkendali. Bahkan mulai menyerang petugas dan ofisial.

Baca Juga: Persib Bungkam Arema FC 2-1 di Depan Pendukung Yang Padati Stadion Kanjuruhan Malang

Disini titik awal kejadiannya, terutama setelah polisi menembakkan gas air mata. Kenapa gas air mata? Kenapa bukan disemprot air saja?

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

X