• Sabtu, 3 Desember 2022

Polri Diminta Pertimbangkan Hentikan Operasi Madago Raya di Poso

- Jumat, 30 September 2022 | 16:09 WIB
Satgas Madago Raya gabungan TNI-Polri menyisir daerah operasi pemburuan terduga teroris Poso di Desa Manggalapi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.(Antara/Kristina Natalia)
Satgas Madago Raya gabungan TNI-Polri menyisir daerah operasi pemburuan terduga teroris Poso di Desa Manggalapi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.(Antara/Kristina Natalia)


SINAR HARAPAN - Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Profesor Lukman Thahir, meminta Mabes Polri mempertimbangkan untuk memberhentikan perpanjangan Operasi Madago Raya yang terkonsentrasi di Kabupaten Poso.

"Dengan peristiwa tertembak diduga anggota terakhir dari MIT Poso maka perpanjangan itu harus menjadi sinyal bagi Mabes Polri untuk menghentikan operasi Madago Raya," kata Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Palu, Prof Lukman di Palu, Jumat 30 September 2022.

Dia menjelaskan usul untuk mempertimbangkan menghentikan operasi itu, sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan Sulteng saat ini yaitu memperlihatkan wajah daerah dengan penuh kedamaian.

Baca Juga: Polda Sulteng Sebut DPO MIT Askar Terlibat 10 Kasus Pembunuhan

Sehingga, sambung Lukman, dalam upaya semacam itu tidak lagi membutuhkan pengerahan personel aparat Polri maupun TNI yang bersenjata lengkap di sekitar masyarakat.
 
"Sekaligus memang indikator untuk memperlihatkan keberhasilan dari operasi itu adalah dengan cara menghentikan, karena kalau tidak dihentikan orang-orang akan terus bertanya kapan selesai dan sejauh apa keberhasilan dari operasi itu," ia menjelaskan.
 
Akan tetapi, sambung Prof Lukman, penghentian operasi Madago Raya bukan berarti pihak aparat melepas tangan secara begitu saja.

Baca Juga: Polda Sulteng Pastikan DPO MIT yang Tewas Baku Tembak adalah Askar

Prof Lukman yang juga mantan Sekretaris Jendral (Sekjen) Pengurus Besar (PB) Alkhairaat itu menyampaikan, agar pihak aparat tidak boleh meninggalkan memori atau citra yang tidak mengesankan pada masyarakat pada tiga wilayah yang selama ini menjadi konsentrasi operasi yakni Kabupaten Poso, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong.
 
"Pemulihan kondisi sosial pasca-operasi itu sangat penting jangan sampai meninggalkan trauma diantaranya harus bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul selama operasi berlangsung seperti kasus salah tembak," dia mengatakan.
 
Selanjutnya, sambung Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Sulteng itu mengatakan, adalah pembentukan tim kecil yang untuk tetap melakukan pemantauan terhadap potensi yang diduga masih ada.
 
"Harus tetap dipantau jika memang potensi itu masih ada, akan tetapi bukan lagi dengan konsep operasi melainkan tim kecil saja yaitu dengan cara turut melibatkan pihak-pihak terkait," kata Prof Lukman.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: Antara

Tags

Terkini

X