• Selasa, 4 Oktober 2022

Kasus Kematian Brigadir J Tambah Membingungkan, Komnas HAM Mesti Tegar dan Profesional

- Minggu, 14 Agustus 2022 | 11:06 WIB
Makam Brigadir J (Foto: republika.id)
Makam Brigadir J (Foto: republika.id)

SINAR HARAPAN--Berbagai perkembangan fakta dan pernyataan terkait kasus kematian Brigadir Nopryansyah Josua (J) Hutabarat semakin membingungkan publik. Karenanya, kasus ini sebaiknya segera disidangkan agar rangkaian fakta terbuka dan tidak ada yang bisa ditutupi di depan majelis hakim.

Fakta pertama, Bareskrim Polri telah menghentikan laporan dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada Putri Candrawathi, istri Irjen Pol Ferdy Sambo.

Direktur Pindak Pidana Umum Bareskrim Polr, Brigjen Pol Andi Rian Djajadi, menjelaskan laporan dugaan pelecehan atau kekerasan seksual dilaporkan dengan Laporan Polisi Nomor 1630/B/VII/2022/SPKT Polres Metro Jakarta Selatan pada tanggal 9 Juli 2022. Penyelidikannya telah dihentikan.

Dugaan pelecehan seksual sebelumnya dikemukakan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo ketika pertama kali menyampaikan informasi terjadinya tembak-menembak di rumah dinas Ferdy Sambo pada 8 Juli lalu. Dalam peristiwa ini Brigadir J meninggal. Menurut penjelasan Polri sebelumnya, korban tertembak oleh peluru senjata Bharada Richard Eliezer.

Kedua, Pernyataan mantan pengacara Bharada E, Muhammad Burhanuddin. Ia membeberkan kronologi kejadian berdasarkan pengakuan kliennya.

"Pokok masalahnya ada di Magelang. Ada pertengkaran antara Ricky (RR) sama almarhum (Brigadir J). Begitu ditanya apa masalahnya, keduanya tidak ingin menyampaikannya ke Bharada (E). Katanya tidak usah ikut campur," terang Burhanuddin dikutip dari YouTube Indonesia Lawyers Club, Sabtu (13/8).

Setibanya di Jakarta, Ferdy Sambo segera memerintahkan Bripka R untuk mengamankan senjata milik Brigadir J. "Pada saat di TKP, mereka berempat yaitu FS, RR, RE, dan KM sudah ada di dalam. Ricky kemudian disuruh memanggil Brigadir J," lanjut Burhanuddin.

Setelah Brigadir J berada di rumah dinas Ferdy Sambo di kompleks Polri Duren Tiga Pancoran Jakarta Selatan, dia dipaksa berjongkok oleh Ferdy Sambo.

Menurut Burhanuddin, Ferdy Sambo sempat menjambak rambut Brigadir J dan langsung memerintahkan Brigadir E untuk melepaskan tembakan ke arah almarhum. "Si bos itu katanya menjambak rambutnya, lalu diperintah Bharada E untuk menembak. 'Woi tembak, tembak, tembak',” ujarnya.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

Komnas HAM Turunkan Tim Pemantauan Tragedi Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 11:38 WIB

IPW Minta Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan Mundur

Minggu, 2 Oktober 2022 | 10:19 WIB
X