• Kamis, 29 September 2022

KPK Temukan Dokumen Aliran Uang dari Plaza Summarecon Bekasi Jawa Barat

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:21 WIB
Sejumlah penyidik KPK keluar dari gedung Plaza Summarecon, Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/8/2022) malam.(Antara/Fakhri Hermansyah)
Sejumlah penyidik KPK keluar dari gedung Plaza Summarecon, Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/8/2022) malam.(Antara/Fakhri Hermansyah)


SINAR HARAPAN - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan dan mengamankan berbagai dokumen dugaan aliran uang dan bukti elektronik dari penggeledahan di Plaza Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Senin 8 Agustus 2022.

Penggeledahan dilakukan dalam penyidikan kasus dugaan suap pengurusan perizinan di wilayah Pemerintah Kota Yogyakarta dengan tersangka mantan Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti (HS) dan kawan-kawan.

"Selama kegiatan berlangsung, tim penyidik menemukan dan mengamankan berbagai bukti yang menguatkan dugaan unsur perbuatan pidana para tersangka. Adapun bukti dimaksud antara lain berbagai dokumen dugaan aliran uang dan bukti elektronik," kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Selasa 9 Agustus 2022.

Baca Juga: KPK Turut Geledah Plaza Summarecon Bekasi

Atas temuan bukti-bukti tersebut, kata Ali, tim penyidik segera menganalisis dan menyita untuk dikonfirmasi lebih lanjut pada saksi-saksi maupun para tersangka kasus itu.

Sebelumnya pada Jumat 5 Agustus 2022, KPK juga telah menggeledah di Plaza Summarecon Jakarta Timur (Jaktim). Tim penyidik menemukan dan mengamankan berbagai dokumen dan alat elektronik dari lokasi tersebut.

KPK pada Jumat 3 Juni 2022 telah menetapkan empat tersangka kasus tersebut, sebagai penerima suap ialah Haryadi Suyuti (HS), Kepala DPMPTSP Kota Yogyakarta Nurwidhihartana (NWH), dan Triyanto Budi Yuwono (TBY) sekretaris pribadi merangkap ajudan HS.

Baca Juga: KPK Sita Dokumen dan Alat Elektronik dari Plaza Summarecon Jakarta Timur

Sementara pemberi suap, yaitu Oon Nusihono (ON) selaku Vice President Real Estate PT Summarecon Agung (SA) Tbk.

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan pada tahun 2019 tersangka ON, melalui Dandan Jaya Kartika selaku Direktur Utama PT Java Orient Property (JOP), anak perusahaan PT SA, mengajukan permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) dengan mengatasnamakan PT JOP untuk pembangunan apartemen Royal Kedhaton di kawasan Malioboro. Pembangunan apartemen tersebut masuk dalam wilayah cagar budaya di Pemkot Yogyakarta.

Permohonan izin berlanjut di 2021, dimana ON dan Dandan Jaya diduga melakukan pendekatan dan komunikasi secara intens serta membuat kesepakatan dengan HS yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta periode 2017-2022.

Baca Juga: KPK Selidiki Kemungkinan Pidana Korporasi Pada Penerbitan IMB Summarecon di Yogyakarta

KPK menduga ada kesepakatan antara ON dan HS, di antaranya HS berkomitmen akan selalu mengawal permohonan IMB tersebut dengan memerintahkan Kadis PUPR agar segera menerbitkan IMB yang dilengkapi dengan pemberian sejumlah uang selama pengurusan izin berlangsung.

Selama penerbitan IMB itu, KPK menduga terjadi penyerahan uang secara bertahap dengan nilai minimal sekitar Rp50 juta dari ON untuk HS melalui tersangka TBY dan untuk tersangka NWH. Pada tahun 2022, IMB pembangunan apartemen Royal Kedhaton yang diajukan PT JOP akhirnya terbit.

Selanjutnya, Kamis 2 Juni 2022, ON datang ke Yogyakarta untuk menemui HS di rumah dinas jabatan wali kota dan menyerahkan uang sekitar 27.258 dolar AS yang dikemas dalam "goodie bag" melalui TBY, sebagai orang kepercayaan HS. Sebagian uang tersebut juga diberikan untuk NWH.

Dalam pengembangan kasus itu, KPK pada Jumat 22 Juli 2022 juga telah menetapkan Dandan Jaya Kartika (DJK) sebagai tersangka.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: Antara

Tags

Terkini

X