• Rabu, 10 Agustus 2022

KPK Mendalami Keterangan Dua Saksi Terkait Aset Milik Wali Kota Ambon Nonaktif Richard Louhenapessy

- Selasa, 5 Juli 2022 | 09:31 WIB
Tersangka Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy (tengah/rompi jingga), di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (13/5/2022).(Antara/Benardy Ferdiansyah)
Tersangka Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy (tengah/rompi jingga), di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (13/5/2022).(Antara/Benardy Ferdiansyah)

SINAR HARAPAN - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami pengetahuan dua saksi soal aset-aset milik tersangka Wali Kota Ambon nonaktif, Richard Louhenapessy (RL), terkait kasus dugaan pencucian uang.

"Didalami pengetahuannya terkait aset-aset milik tersangka RL dalam rangka pembuktian unsur pasal TPPU," kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK, Ali Fikri, di Jakarta, Selasa 5 Juli 2022.

Dua saksi masing-masing Philygrein Miron Calvert Hehanusa selaku wiraswasta dan Leberina Louisa Evelien dari pihak swasta. KPK memeriksa keduanya di Gedung KPK, Jakarta, Senin 4 Juli 2022.

Baca Juga: KPK Telisik Dugaan Penerimaan Uang Wali Kota Ambon dari Kontraktor

Selain itu, kata dia, tim penyidik juga mengonfirmasi keduanya mengenai jumlah uang yang diduga diterima Louhanapessy.

Sementara, KPK juga menginformasikan seorang saksi yang tidak menghadiri panggilan tanpa mengonfirmasi, yaitu Fahri Anwar S selaku wiraswasta.

"Akan dijadwal ulang dan KPK ingatkan agar saksi kooperatif hadir memenuhi panggilan KPK," kata Fikri.

Baca Juga: KPK Panggil Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon

KPK baru saja menetapkan Louhanapessy sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang. Penetapan itu pengembangan dari kasus dugaan suap persetujuan izin prinsip pembangunan cabang ritel tahun 2020 di Ambon, Maluku yang sebelumnya juga menjerat dia sebagai tersangka.

KPK menduga dia secara sengaja menyembunyikan maupun menyamarkan asal usul kepemilikan harta benda dengan menggunakan identitas pihak-pihak tertentu.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan dia sebagai tersangka penerima suap bersama staf tata usaha pimpinan Pemkot Ambon, Andrew Erin Hehanusa (AEH), dalam kasus persetujuan izin prinsip pembangunan cabang ritel di Ambon.

Baca Juga: Rutan Ambon Tidak Izinkan Keluarga Jenguk Tahanan KPK

Sementara sebagai pemberi suap ialah Amri (AR) selaku wiraswasta/karyawan Alfamidi di Ambon.

Dalam konstruksi perkara suap Louhanapessy, KPK menjelaskan dalam kurun waktu tahun 2020, dia yang menjabat wali kota Ambon periode 2017-2022 memiliki kewenangan, salah satunya memberikan persetujuan izin prinsip pembangunan cabang ritel di Ambon.

Dalam proses pengurusan izin tersebut, diduga tersangka Amri aktif berkomunikasi hingga melakukan pertemuan dengan dia agar proses perizinan pembangunan cabang ritel Alfamidi bisa segera disetujui dan diterbitkan.

Baca Juga: KPK Duga Wali Kota Ambon Kondisikan Pemenang Berbagai Proyek

Menindaklanjuti permohonan Amri, dia kemudian memerintahkan kepala Dinas PUPR Pemkot Ambon untuk segera memproses dan menerbitkan berbagai permohonan izin, di antaranya surat izin tempat usaha dan surat izin usaha perdagangan.

Terhadap setiap dokumen izin yang disetujui dan diterbitkan tersebut, dia meminta agar penyerahan uang dengan minimal nominal Rp25 juta menggunakan rekening bank milik Andrew Hehanusa yang merupakan orang kepercayaan dia.

Khusus untuk penerbitan persetujuan prinsip pembangunan 20 gerai usaha ritel itu, Amri diduga kembali memberikan uang kepada Richard sekitar Rp500 juta secara bertahap melalui rekening bank milik Andrew Hehanusa.***

Halaman:

Editor: Norman Meoko

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Brimob Datangi Rumah Pribadi Irjen Ferdy Sambo

Selasa, 9 Agustus 2022 | 16:41 WIB

KPK Pastikan Surya Darmadi Tidak Ada di Indonesia

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:26 WIB

LPSK Tinggalkan Rumah Pribadi Irjen Ferdy Sambo

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:11 WIB
X