Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Lebih Stabil Dibandingkan AS

Senin , 04 November 2019 | 16:08
Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Lebih Stabil Dibandingkan AS
Sumber Foto : SH/Satryo Yudhantoko
Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama DPR Sore ini.

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melakukan rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI sore ini. Dalam rapat tersebut, dia menyebut ekonomi Indonesia masih terbilang stabil ketimbang negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Eropa bahkan China sekalipun.

Pasalnya, perkembangan ekonomi makro dunia terkini bisa dibilang sudah masuk ke dalam kategori resesi. Hal itu, kata Sri, terlihat dari revisi pertumbuhan ekonomi dunia yang proyeksinya turun hampir 0,7 persen.

"Sekarang proyeksi terakhir hanya akan tumbuh 3,0 persen. Kalau menurut IMF pertumbyhan ekonomi 3 persen itu sudah masuk kategori resesi dunia. Meskipun kalau definisi resesi masing-masing negara adalah dua kali kontraksi dari pertumbuhan ekonominya," ujar Sri di Ruang Rapat Komisi XI DPR, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (4/11/2019).

Selain itu, perdagangan global juga mengalami tekanan yang sangat keras karena adanya perang dagang antara negara-negara besar dunia seperti Amerika Serikat, Eropa dan China. "Dengan demikian pertumbuhan perdagangan dunia tahun 2019 diperkirakan hanya 1,1 persen saja. Ini adalah pertumbuhan perdagangan global yang terlemah sebelum 10 tahun yang lalu atau bahkan sebelum itu," sebutnya.

Ancaman global itu, lanjut Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, bakal memberikan dampak kepada pertumbuhan ekonomi dibanyak negara dunia. Tak terkecuali ancaman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2019.

Namun demikian, Sri menyebut ekpnomi Indonesia cendrung lebih baik ketimbang negara ekonomi besar dunia saat ini.

"Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi diberbagai banyak negara, mereka makin mengalami penurunan. Amerika Serikat saja yang sekarang masih termasuk kategori yang paling kuat perekonomian dari sisi pertumbuhan ekonomi juga tidak terelakan mengalami perlambatan akibat dunia juga mengalami perlambatan," katanya.

Bahkan, sambung Sri, negara-negara besar di Eropa seperti Jerman juga terdampak iklim ekonomi global saat ini. Negara itu sempat mengalami negatif growth, meskipun pada Kuartal-III terakhir tumbuh 0,4 persen. Sementara China yang biasanya tumbuh di atas 7 atau mendekati 7 persen sekarang makin mendekati 6 persen. "Bahkan diperkirakan hanya di sekitar 5,5 persen," ucap Sri.

Lebih lanjut, Sri menyebut negara-negara tetangga Indonesia di Asia juga mengalami negatif pertumbuhan ekonomi. Namun sebaliknya, Sri dengan pede menyatakan RI tidak terpengaruh iklim ekonomi global yang mengalami resesi atau perang dagang.

"Indonesia masih relatif stabil diatas 5 persen. Sedangkan tetangga kita seperti Singapura sempat menglami negatif growth di dua triwulan terkahir hanya sekitar 0,2 persen. Jepang dan India sekarang merosot cukup tajam dimana sekarang ada di kisaran 5 persen. Thailand dan filipina juga begitu," ungkapnya.

"Jadi di dunia mengalami perlambatan dan itulah yang harus kita waspadai," tambahnya. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load