Proyek Infrastruktur Pintu Masuk RI Terintegrasi dengan Ekonomi Internasional

Selasa , 15 Oktober 2019 | 15:13
Proyek Infrastruktur Pintu Masuk RI Terintegrasi dengan Ekonomi Internasional
Sumber Foto: Istimewa
Kepala BKPM, Thomas Lembong

JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong optimistis integrasi Indonesia dengan ekonomi internasional akan semakin meningkat karena pemerintah selama lima tahun terakhir mendorong infrastruktur sebagai fondasi utama investasi.

"Indikator daya saing infrastruktur kita menempati rangking 72 dari 141 negara. Coba bayangkan jika pemerintahan Jokowi tidak membangun infrastruktur, seberapa jauh kita akan merosot," katanya dalam forum Investasi dan Perdagangan Indonesia 2019 di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Mencermati peringkat tersebut, menurut dia, RI masih mengalami defisit infrastruktur sehingga memiliki peluang besar untuk melakukan integrasi dengan pasar internasional untuk menarik investasi.

Kepala BKPM mengharapkan infrastruktur menjadi fondasi untuk mendorong internasionalisasi ekonomi Indonesia karena selama ini persentase ekspor impor masih terbilang rendah dibandingkan negara tetangga.

Konsekuensinya, lanjut dia, kecanggihan ekonomi Indonesia bisa semakin kalah dengan negara tetangga yang lebih terintegrasi dengan ekonomi di regional dan internasional, jika porsi ekspor impor terus rendah.

Negara tetangga, kata dia, saat ini juga tidak statis dalam mengejar inovasi, promosi investasi, perjanjian dagang hingga perbaikan bidang tenaga kerja untuk mendorong integrasi ekonomi dengan dunia.

Dengan membuka diri dan mengundang investor dan pelaku paling canggih dan modern serta inovatif ke dalam negeri, kata dia, maka banyak contoh terbaik bisa dihadirkan ke Indonesia.

"Kita belum berhasil mendongkrak ekspor impor, investasi. Tapi melihat prestasi pemerintah lima tahun terakhir, saya yakin kita sudah meletakkan fondasinya terutama infrastruktur," kata Thomas seperti dikutip dari antaranews.com.

Sementara itu, terkait daya saing Indonesia yang turun peringkat dari 45 ke posisi 50, Thomas mengakui peringkat itu merupakan yang paling rendah sejak tujuh tahun terakhir.

Untuk itu, ia mendorong agar daya saing bisa ditingkatkan karena penurunan peringkat itu mendesak untuk ditindaklanjuti.

Dia mengutip hasil World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan sejumlah indikator yang membuat daya saing RI menurun, diantaranya pasar tenaga kerja dan kesehatan publik.

Sedangkan, indikator utama yang mendorong keunggulan daya saing Indonesia adalah pangsa pasar yang besar dan dinamika bisnis.

"Akar dari segalanya adalah mindset atau mental. Revolusi mental bagi saya itu kontribusi utama. Itu tantangan dan peluang bagi lima tahun ke depan untuk diperluas," katanya.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load