Solusi Akhir, Lawan, Solusi Sementara. Apa Bedanya ?

Senin , 30 September 2019 | 08:10
Solusi Akhir, Lawan, Solusi Sementara. Apa Bedanya ?
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman

KETIKA penulis pada tahun 1973, berarti ini sudah 46 tahun yang lalu, baru pertama kali menginjak kaki di Kampus Duke University, di Kota Durham, Negara Bagian North Carolina, Amerika Serikat. Penulis pada waktu itu bermukim di Kota Durham. Penulis dianggap seperti manusia yang datang dari Angkasa Luar. Kenapa begitu? Penulis adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di tengah-tengah masyarakat orang kulit putih di Amerika Serikat Selatan, yang masih alergi terhadap bangsa kulit berwarna, yang bukan orang berkulit putih.

Pada akhirnya mereka bisa menerima keberadaan penulis di tengah orang Amerika kulit putih. Penulis merasa heran, di kota Durham yang berpenduduk 100.000 orang, penulis tidak melihat ada sepeda motor yang berseliweran di jalan-jalan raya di kota itu. Demikian juga, ketika penulis berkesempatan berkunjung ke kota-kota: Washington DC, Boston, Atlanta, Denver, San Fransisco, dan Honolulu, penulis juga tidak pernah menjumpai sepeda motor yang berseliweran di jalan-jalan raya.

Hal yang sama juga, ketika penulis pernah berkunjung ke kota-kota lain di dunia, seperti : London, Paris, Geneva, Amsterdam, Brusel, Glasgow, Hongkong, Peking, Tokyo, Kuala Lumpur dan Singapura, penulis juga tidak melihat sepeda motor berkeliaran di jalan raya.

Akhirnya, penulis lalu tahu bahwa pemerintah dan manusianya di kota-kota itu, selalu mencari dan mempraktekkan penyelesaian akhir yang unik (Solusi Akhir / Final Solution) yang unik, yang tidak ada kembarannya. Sementara itu, Solusi Sementara (Adhoc-Solution) adalah selalu digemari oleh Pemerintah, dan manusia Indonesia? Artinya, solusinya bermacam-macam.

Di negara-negara tersebut di atas, untuk menghindari kemacetan total di kota-kotanya, maka sepeda motor diklasifikasikan sebagai barang hobi, dan bukan sebagai alat angkut, seperti di Indonesia. Di negara-negara itu, kalau ada sepeda motor yang masuk ke jalan raya, maka akan dikenakan denda yang mahal sekali. Dan angkutan publiknya seperti bus dapat dipegang / dipercaya jadwalnya. Dan rakyatnya rela berjalan kaki dan sabar menanti kedatangan bus, atau kereta api, sebagai angkutan umum.

Di Indonesia karena angkutan publik atau angkutan umum itu kurang banyak dan jadwalnya tidak bisa dipegang, maka sebagai Solusi Adhoc (Solusi Sementara), maka sepeda motor boleh dimanfaatkan sebagai alat untuk mengangkut orang dan atau barang.

Lalu kemudian ditambah lagi dengan adanya keberadaan perusahaan leasing yang tumbuh menjamur di Indonesia, yang membiayai kredit untuk membeli sepeda motor dan  mobil. Akibatnya setiap hari di Indonesia bertambah dengan pesat sekali jumlah sepeda motornya, dan mobil-mobil baru yang membanjiri jalan raya di kota-kota Indonesia.

Penulis sangat khawatir sekali, barang kali kurang dari sepuluh tahun, bahkan perkiraan penulis bisa dalam jangka waktu lima tahun yang akan datang, beberapa kota di Indonesia, seperti : Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, Bandung, dan seterusnya, pada suatu hari di kota-kota itu akan terjadi, bukan lagi macet kendaraan, tetapi terkancing kendaraan-kendaraan itu. Apa artinya? Yakni pada suatu saat di kota-kota itu kendaraan bermotor terhenti total di jalan-jalan raya, di kota-kota, maju mandek, mundur juga mandek! Dan hal ini akan menjadi berita besar di tv-tv dunia, dan juga di semua Media Sosial di dunia. Alangkah malunya kita orang Indonesia !.

Sebaiknya, marilah kita belajar kepada negara-negara yang mengatur jumlah kendaraan bermotornya untuk tidak berkeliaran di jalan-jalan raya, demi untuk menghindar terjadinya peristiwa, “Kendaraan bermotor terkancing?” Lalu, anda mau ngapain?

Kata pepatah Indonesia, “Guru yang paling berharga adalah pengalaman”. Dan ini bukanlah pengalaman pribadi, akan tetapi belajarlah dari keberhasilan negara-negara lain untuk menghindari peristiwa terkancingnya kendaraan bermotor di kota-kotanya.

Terus penulis berujar “Kalau orang-orang sedunia suka kepada, “Penyelesain akhir yang unik”, sedangkan kita di Indonesia lebih suka kepada “Penyelesaian sementara (Ad-hoc)”. Atau dengan perkataan lain, orang-orang sedunia lebih suka kepada solusi akhir yang unik, kita di Indonesia lebih suka kepada solusi sementara, alias ad-hoc solution”, selamanya (forever)?”. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load