Teori Kolusi

Rabu , 25 September 2019 | 09:06
Teori Kolusi
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman

KETIKA penulis menuntut ilmu di Duke University, North Carolina, USA, pada tahun 1973-1975, dan ketika penulis mengikuti kuliah Teori Ekonomi Mikro, Puncaknya (Advance Micro Economics Theory), yang diberikan kuliah oleh Prof. Dr. Daniel Graham. Pada saat kuliah, beliau membahas, Teori Kolusi (Collution Theory), siapa pelaku ekonominya (Economics Agents)?, dan apa faedahnya (motivation) bagi pelaku ekonomi itu.

Menurut teori ini, para pelaku ekonomi itu akan berkolusi, alias bergabung di dalam melakukan kegiatan ekonomi, apabila kedua belah pihak memperoleh keuntungan dan bukan kerugian. Sebagai contoh, dua orang pengusaha akan bergabung pada suatu usaha bisnis, kalau keduanya akan memperoleh posisi yang lebih baik (better off) dibandingkan kalau tidak bergabung (berkolusi). Di dalam istilah bisnis, disebut merger (bergabung) accusation (pembelian / pengambilan), sehingga para pihak-pihak yang bergabung merasa lebih baik. Di dalam hal seperti ini, maka para pebisnis berbahagia dengan berkolusi. Istilah lain, kelihatannya lebih menarik, adalah pembentukan Perusahaan Induk yang disebut dengan nama, Perusahaan  Pemilik (Holding Company). Hal ini, contohnya terjadi penggabungan perusahaan milik negara (BUMN) dibidang Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dewasa ini sudah terbentuk BUMN Holding di bidang listrik, dan di bidang pertambangan, dalam usaha untuk mengakuisisi (mengambil alih) saham PT Freeport.

Akan tetapi, apabila ada diantara para pebisnis yang berkolusi itu, berpendapat bahwa dengan berkolusi itu keadaan / situasi yang dia peroleh malah menjadi lebih jelek / buruk, dibandingkan dengan keadaan sebelum berkolusi, maka secara teori dan prakteknya, pebisnis yang terakhir ini akan cabut / keluar dari kolusi itu.

Hal seperti ini juga terjadi di dalam kehidupan bernegara diantara bangsa-bangsa di dunia. Ambillah contoh kasus Yugoslavia. Dibawah pemerintahan Joseph B.Tito maka terbentuklah Negara Kesatuan Yugoslavia yang terdiri dari perbagai negara-negara kecil dari suku bangsa Slavia. Di dalam perjalanannya, setelah Presiden Tito wafat, maka diantara negara-negara yang bergabung tadi ada yang merasa, dengan bergabung kedalam negara Yugoslavia, mereka merasa lebih jelek (Worse off), maka mereka pada menarik diri dari negara Yugoslavia. Sekarang ini, kita kenal pecahan-pecahan dari negara Yugoslavia, antara lain negara : Kroasia, Bosnia Herzegovina, dan Serbia. Dengan perkata lain, Negara Yugoslavia sudah tamat riwayatnya. Dan sudah merupakan, sejarah masa lalu!

Hal yang sama, telah terjadi dengan negara Uni Soviet, Rusia (United Stated of Soviet Rusia/USSR), sekarang pecah menjadi banyak negara seperti : Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Kirgistan. Negara-negara yang memisahkan diri itu, adalah mereka mengadopsi Teori Kolusi, yakni kalau berkolusi alias bergabung menjadi lebih jelek keadaannya, maka dia pasti akan memisahkan diri dari kolusi itu.

Hal yang sama lagi sedang berproses di Kerajaan Inggris, di mana ada kemauan Skotlandia untuk keluar dari Kerajaan Inggris Raya, untuk menjadi negara sendiri.

Ternyata, bahwa Teori Kolusi yang penulis peroleh dari Prof. Dr. Daniel Graham di Duke University, Durham North Carolina, USA, adalah berlaku secara umum, baik pada kasus kehidupan: perseorangan atau bisnis, dan berlaku juga pada kehidupan bernegara dan berbangsa di dunia. Penulis memohon kepada Ilahi Robbi, agar Negara Kesatuan Republik Indonesia, (NKRI), terhindar dari pada adanya niat, apalagi gerakan seperti yang telah terjadi di Rusia dan Yugoslavia. Ya Allah Robb Yang Maha Kuasa, hanya Engkaulah Penguasa Tunggal dari pada Alam Semesta ini. Hamba mohon kehadirat-Mu lindungilah NKRI, supaya berusia sampai Hari Akhir. Amin Ya Robbal ‘alamin. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load