Hingga Agustus 2019, Pendapatan Negara Tembus Rp 1.189,3

Rabu , 25 September 2019 | 08:31
Hingga Agustus 2019, Pendapatan Negara Tembus Rp 1.189,3
Sumber Foto : Istimewa
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA ‐ Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan Pendapatan Negara dan Hibah hingga akhir Agustus ini sebesar Rp 1.189,3 triliun atau 54,9 persen dari target APBN 2019. Capaian ini tercatat masih bertumbuh 3,2 persen secara year on year (yoy). 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa realisasi tersebut terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp 920,2 triliun atau 51,5 persen dari target, PNBP sebesar Rp 268,2 triliun atau 70,9 persen dari target, dan penerimaan hibah sebesar Rp 1 triliun atau 220,6 persen dari target. 

"Secara lebih rinci, realisasi perpajakan terdiri dari penerimaan pajak dan penerimaan kepabeanan dan cukai, yang masing-masing telah mencapai Rp 801,16 triliun atau 50,78 persen dari target dan Rp 119 triliun atau 56,98 persen dari target," ungkap Sri dalam jumpa pers APBN kiTA, di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019).

Realisasi penerimaan pajak pun, menurut Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, masih mampu tumbuh sebesar 0,21 persen (yoy)  hal itu akan teralisasi jika ditopang oleh penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPh nonmigas sendiri tercatat masih tumbuh positif 3,97 persen (yoy). 

Berdasarkan komponennya, PPh nonmigas penerimaannya didukung oleh penerimaan utama pajak yang bersumber dari PPh 25/29 Badan, PPh 21, dan PPh Final. Sementara pertumbuhan PPh nonmigas didorong oleh pertumbuhan dari penerimaan PPh 21 dan PPh 25/29 Orang Pribadi (OP), yang masing-masing tercatat tumbuh sebesar 10,63 persen (yoy) dan 15,35 persen (yoy). 

Kendati demikian, Sri mengakui bahwa capaian penerimaan negara hingga Agustus ini masih terjadi perlemahan. Khususnya jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Agustus 2018 yang bisa mencapai 60,8%.

Melemahnya penerimaan negara itu, dianggapnya sebagai tanda nilai setoran pajak dari pengusaha juga turun.

"Ini menandakan kondisi ekonomi alami penurunan sehingga para pengusaha bayar pajak lebih rendah dibanding dua tahun berturut-turut. Ini harus kita waspadai karena ini menggambarkan bahwa mereka menghadapi situasi yang kurang baik," Imbuhnya. (Ryo)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load