BI: Ekspor RI Dalam Tekanan Pelemahan Ekonomi Global

Jumat , 20 September 2019 | 09:51
BI: Ekspor RI Dalam Tekanan Pelemahan Ekonomi Global
Sumber Foto : Istimewa
Gubernur BI Perry Warjiyo

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi ekspor Indonesia berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Sebab, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus berlangsung makin menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Ekspor Indonesia diperkirakan belum membaik seiring permintaan global dan harga komoditas yang menurun, meskipun beberapa produk ekspor manufaktur seperti kendaraan bermotor tetap tumbuh positif," ungkapnya dalam jumpa pers di Kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin (19/9/2019).

"Perekonomian AS tumbuh melambat akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga berlanjut, dipengaruhi penurunan ekspor dan kemudian berdampak pada penurunan permintaan domestik," sambungnya.

Kendati demikian, Perry menyebut ekonomi global belum dalam kondisi yang resesi. Sebab menurutnya, definisi resesi adalah ketika suatu negara mengalami pertumbuhan ekonomi negatif di dua kuartal beruntun dalam tahun yang sama. 

Oleh karena itu, Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi global di tahun depan masih sebesar 3,2 persen, yang merupakan hasil revisi dari prediksi sebelumnya yang sebesar 3,3 persen. 

Ekonomi Indonesia pun, menurutnya masih bisa tetap terjaga, dengan menerapkan bauran kebijakan terbaru yang dikeluarkan BI kemarin. "Makanya kita menempuh, melanjutkan bauran kebijakan akomodir yang sudah kita lakukan. Dengan menurunkan suku bunga, kedua memperlonggar makroprudensial, tiga sistem pembayaran, dan keempat untuk operasi moneter," imbuhnya.

Ke depan, bauran kebijakan tersebut diprakirakan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia supaya berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4 persen pada 2019 l, dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1-5,5 persen pada 2020.

"Yang tadi saya sampaikan bisa memperkirakan ekonomi kita bisa tumbuh ya tahun ini dibawah 5,2 tapi sekitar 5,1 persen, momentumnya menjaga. Dan tahun depan juga bisa meningkat menuju titik Tengah yaitu 5,3 persen. Itu semua, kebijakan, kita arahkan ke sana," pungkasnya. (Ryo)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load