Bank Dunia: Pendapatan Perkapita Indonesia Turun Menjadi US$3.870

Rabu , 07 Juli 2021 | 20:50
Bank Dunia: Pendapatan Perkapita Indonesia Turun Menjadi US$3.870
Sumber Foto Dok/Istimewa
Ilustrasi grafis

JAKARTA--Bank Dunia menurunkan Indonesia dari kategori negara berpendapatan menengah atas (upper middle income) menjadi negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income). Pendapatan per kapita Indonesia pada 2020 adalah sebesar USD3,870 atau turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai USD4,050.

Dari publikasi yang diperbarui setiap 1 Juli tersebut, Bank Dunia mencatat Pendapatan Nasional Bruto (GNI) Indonesia turun dari US$4.050 menjadi US$3.870. Penurunan status Indonesia lantaran dampak pandemi covid-19 yang memukul penghasilan masyarakat. Perhitungan yang dilakukan Bank Dunia mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar mata uang, dan pertumbuhan populasi yang dipengaruhi oleh GNI per kapita.
 
Selain Indonesia, negara lain yang mengalami penurunan kategori adalah Belize, Iran, Mauritius, Panama, Rumania, dan Samoa. Sementara hanya tiga negara yang mengalami kenaikan yaitu Haiti, Moldova, dan Tajikistan.
 
"Indonesia, Mauritius, Rumania, dan Samoa sangat dekat dengan ambang batas klasifikasi pada 2019 dan semuanya mengalami penurunan GNI per kapita terkait covid-19, yang mengakibatkan klasifikasi lebih rendah pada 2020," dilansir dari laman Bank Dunia, Rabu, 7 Juli 2021.

Untuk tahun ini negara berpendapatan menengah bawah adalah yang memiliki pendapatan per kapita antara USD1.046 sampai USD4.095, dari sebelumnya antara USD1.035 sampai USD4.045.
 
Kemudian negara berpendapatan menengah atas memiliki pendapatan per kapita USD4.096 sampai USD12.695 dari USD4.046 sampai USD12.535. Sedangkan negara high income memiliki pendapatan per kapita di atas USD12.695 atau naik dari sebelumnya USD12.535.

Bank Dunia menilai ada dua alasan mengapa klasifikasi negara berubah. Pertama, setiap negara, faktor-faktor seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan penduduk mempengaruhi pendapatan per kapita. Revisi metode dan data akun nasional juga dapat memiliki pengaruh dalam kasus tertentu.
 
Kedua, untuk menjaga ambang klasifikasi pendapatan tetap secara riil, mereka disesuaikan setiap tahun untuk inflasi. Deflator Hak Penarikan Khusus (SDR) digunakan, yang merupakan rata-rata tertimbang dari deflator PDB Tiongkok, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Kawasan Euro. Tahun ini, ambang batas naik sejalan dengan ukuran inflasi ini.

 

 



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load