Semua Titik Kini Sasaran Penyelundupan Narkoba

Rabu , 21 Maret 2018 | 07:35
Semua Titik Kini Sasaran Penyelundupan Narkoba
Sumber Fotoachmad satryo yudhantoko
Heru Pambudi

JAKARTA – Pemasok narkoba di Indonesia kini tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional tetapi sudah menyerbu melalui titik sasaran yang berbeda. Ini yang terkadang menyulitkan petugas di lapangan. Karena itu, semua pihak diminta ikut bersinergi untuk memerangi narkoba hingga ke akar-akarnya.

Penegasan itu disampaikan Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi menjawab SH seusai diskusi yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Heru mengatakan, pemasok narkoba sebelumnya menyuplai barang haram itu melalui jalur konvensional seperti Pelabuhan Tanjung Priok atau Bandara Internasional Soekarno-Hatta.“Kini mereka sudah melihat di semua titik. Bagi kami dan jajaran tidak ada titik yang tidak resiko. Meskipun tentunya ada yang resikonya lebih tinggi dibanding yang lain. Jadi, semua titik diperbatasan kita sudah seperti itu (berpotensi jadi tempat pemasukan),” katanya.

Kondisi itu diperparah lagi bahwa mereka mengubah-ubah modusnya. Bukan hanya penyelundupan melalui container tetapi juga melihat berbagai peluang yang ada. Kalau penyelundupan di container, Heru Pambudi merasa sudah establish dan sudah lama berjalan.

Untuk meningkatkan penyelundupan narkoba di Kepulauan seribu, Bea dan Cukai kini mempunyai satu pangkalan di Tanjung Priok serta memiliki beberapa kapal yang panjangnya hingga 28 meter sebanyak 191 kapal dengan personel sebanyak 16 ribu orang. Operasi pun selalu dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.

“Pangkalan khusus juga disiapkan seperti di Tanjung Balai Karimun untuk sektor barat, pangkalan di sektor timur di Pantai Loan, tapi ada pangkalan-pangkalan di bawah itu seperti di Batam, Tanjung Priok dan Sorong. Jadi wilayah Indonesia bisa kita cover,” katanya.

Heru Pambudi menambahkan, kekuatan untuk memberantas peredaran narkoba terletak kepada analisa intelejen. Untuk menganalisa pun butuh kumpulan informasi sehingga yang pertama kali dilakukan adalah sinergi. Bagaimana dan seperti apa informasi dapat terkumpul secara menyeluruh dan setelah itu melakukan analisa bersama untuk kemudian ditentukan targetnya.

“Contoh pada kasus yang 1,6 ton sabu tempo hari. Kita menganalisanya tiga bulan. Setelah itu baru kemudian mengerucut pada titik tertentu yang pada akhirnya kita lakukan operasi secara serentak. Alhamdulillah itu kita bisa dapat. Termasuk baru-baru ini di Aceh  juga sama. Mereka sudah kita identifikasi dan kita lakukan penargetan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, hingga 19 Maret 2018 ini angka penyelundupan melalui pelabuhan sudah mencapai angka 2,9 ton.“Jika dilihat dari market street-nya (harga pasaran di Indonesia) satu kilogram sabu itu kisarannya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Bahkan di beberapa tempat bisa sampai Rp 2 jutaan. Satu ton itu sama dengan 1 juta gram. Tinggal dikali-kan saja 1 juta. Sudah Rp 1 Triliun. Jadi kalo kita tangkap 2,9 nilainya, marker street-nya Rp 2,9 triliun,” dia menambahkan. (achmad satryo yudhantoko)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load