Soal Rupiah, Rizal Ramli Tantang Paslon Pilpres 2019

Sabtu , 01 September 2018 | 17:57
Soal Rupiah, Rizal Ramli Tantang Paslon Pilpres 2019
Sumber Foto RMOL
Rizal Ramli

JAKARTA - Ekonom Rizal Ramli menyebut anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merupakan keadaan setengah krisis. Persoalan ekonomi menjadi ujian serius bagi para kandidat capres/cawapres yang akan berlaga di Pilpres 2019. Bahkan ia menantang kepada kedua pasangan calon untuk bisa memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia.

Hal itu ia sampaikan seusai menghadiri launching buku Prabowo Subianto dengan judul, "Paradoks Indonesia" di hotel Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (1/9/2018).

Mantan Menko Perekonomian itu menegaskan, Indonesia tengah mengalami kondisi ekonomi setengah krisis. Ini merupakan ujian bagi Joko Widodo maupun Prabowo Subianto untuk memulihkan kondisi ekonomi menjadi baik. Di antaranya, mampu menstabilkan ekonomi, serta menaikkan pertumbuhan ekonomi yang sekarang berada di angka rata-rata 5 persen menjadi 7 persen. Bila tidak, niscaya pengangguran semakin menjamur.

Ia menantang kepada kedua kandidat untuk dapat memulihkan kondisi ekonomi tersebut."Jadi ujiannya di situ. Bukan hanya sekadar mau jadi presiden nggak bisa ngapa-ngapain, lah terus ngapain (maju)? Yang jadi presiden harus bisa memulihkan kondisi ekonomi yang setengah krisis ini, harus mampu meningkatkan 7 persen pertahun dan harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Lebih dari pada itu, dia mengatakan krisis ekonomi yang tengah dialami saat ini mandek. Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi stuck di angka sekitar hanya 5 persen. Daya beli merosot dan yang lebih berbahaya lagi ialah resiko makro ekonomi Indonesia. "Resikonya semakin lama semakin tinggi karena ekonomi makro tidak dikelola dengan hati-hati," katanya.

Rizal juga menambahkan, pengelolan ekonomi pemerintah teledor dan telmi sehingga neraca perdagangan negatif, neraca transaksi berjalan negatif, neraca pembayaran negatif, keseimbangan primer sampai akhir tahun ini juga akan negatif. "Artinya untuk membayar bunga, kita mesti utang. Nah resiko makro ekonomi yang makin lama makin tinggi ini berbahaya, buktinya rupiah anjlok terus, capital out flow tinggi sekali, Bank Indonesia Jumat kemarin menghabiskan Rp 3 Trilliun, itu satu hari lho," dia menambahkan.(ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load