In Memoriam Tong Djoe: Pengusaha yang Berjuang untuk Kemajuan Indonesia Tanpa Pamrih

Selasa , 09 Februari 2021 | 13:33
In Memoriam Tong Djoe: Pengusaha yang Berjuang untuk Kemajuan Indonesia Tanpa Pamrih
Sumber Foto : Istimewa
Tong Djoe.

TONG DJOE, pebisnis asal Indonesia sejak masa pemerintahan Orde Lama hingga kini gembira Xi Jinping menjadi presiden baru China. Tong punya bisnis kuat di perkapalan dengan basis di Singapura.

"Saya ucapkan selamat kepada Xi Jinping yang terpilih menjadi presiden China menggantikan Hu Jintao melalui kongres," kata Tong Djoe, pemilik perusahaan perkapalan Grup Tunas, dari Singapura, Jumat (15/3/2013).

Tong sudah lama berbisnis multi bidang di Indonesia, terkhusus dengan pebisnis China. Saking dekat dengan pebisnis China, dia berperan menjembatani pembukaan kembali hubungan diplomatik Indonesia dengan China pada dasawarsa '90-an.

Indonesia dan China putus hubungan menyusul G 30S/PKI, pada awal pemerintahan Soeharto. 

"Semoga hubungan diplomatik Indonesia dan China semakin baik sehingga memberikan dampak positif bagi stabilitas keamanan, politik dan pertumbuhan ekonomi kedua pihak," kata dia.

Lebih jauh lagi, dia berteman baik dengan Xi, sejak Xi menjadi wakil walikota Xiamen, China, pada 1987.

Sepenggal berita yang dikutip Antara pada 15 Maret 2013 silam tersebut menjadi salah satu bukti rekam jejak betapa hebatnya pengusaha yang lahir di Sumatera pada 1927 dan sudah lama menetap di Singapura.

Meski sepi dari pemberitaan dalam lima tahun, Tong Djoe selama ini dikenal sebagai pemilik perusahaan Tunas Group Pte. Ltd. dan banyak berperan dalam membuka kembali hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Pengusaha kapal ini telah menjalin hubungan dengan para presiden Indonesia sejak pada masa Presiden Sukarno. Dalam hubungannya dengan sejumlah presiden Indonesia belakangan ini, Tong Djoe banyak berperan dalam menciptakan jalinan usaha dagang antara para pengusaha Indonesia dan Tiongkok dan memberikan nasihat kepada beberapa presiden dalam berhubungan dengan negara tersebut.

Dari gedung Tunas miliknya, Tong Djoe banyak membantu Indonesia, China, dan bahkan Singapura.

Gedung perkantoran Tunas diresmikan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo pada tahun 1973. Lokasinya di kawasan Tanjong Pagar, dekat pelabuhan Singapura.

Gedung Tunas merupakan gedung tertinggi dan termewah saat itu karena kawasan itu masih merupakan kampung. "Istri Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura) ketika datang bertanya kenapa saat itu saya membangun gedung tinggi di kawasan pelabuhan Singapura yang saat itu masih kampung. Kenapa tidak membangun di pusat kota. Saya jawab suatu saat kawasan ini menjadi kawasan terpenting dan mahal. Sekarang terbukti gedung perkantoran ini yang paling kecil dibandingkan yang lainnya," kata Tong Djoe.

Dari gedung itulah ia ikut membantu bisnis Pertamina, Pelni, dan BUMN Indonesia lainnya. Gedung Tunas menjadi tempat pertemuan para pengusaha Indonesia dan BUMN dengan mitra bisnis internasionalnya. Gedung ini juga menjadi saksi dia membantu finansial para perwira tinggi TNI dan pemimpin politik Indonesia.

"Dari gedung ini juga, saya ikut merapatkan hubungan bilateral dan bisnis antara Indonesia-Singapura. Ketika tentara Indonesia sudah siap menyerang Singapura awal tahun 1970-an, saya juga yang bantu menyelesaikannya. Setelah baik, saya membawa para pengusaha Singapura ke Indonesia," katanya.

"Saya menjual gedung ini untuk mendanai normalisasi hubungan Indonesia-RRC atas permintaan Presiden (waktu itu) Suharto langsung. Juga normalisasi hubungan bilateral Singapura-RRC," tambah dia.

"Suatu hari Jaksa Agung Singapura datang ke saya sebelum berkunjung ke Xianmen, China. Dia minta bantuan saya. Saya bilang lho kok datang ke saya bukan ke perwakilan China. Saat itu, Singapura belum ada hubungan diplomatik dengan RRC. Mereka bilang datang ke saya karena percaya bisa membantu. Akhirnya, saya bantu dan mereka bisa masuk Xianmen dan kini hubungan Singapura-RRC sangat baik," katanya.

Selain itu, Tong Djoe merupakan pengusaha Indonesia yang membangun pertama kali pergudangan modern di pelabuhan Singapura.

Penghargaan Bintang Jasa Pratama

Atas perjuangan Tong Djoe dan segala upayanya dalam membantu Indonesia, sejak perang kemerdekaan hingga masa pembangunan ekonomi, Presiden Habibie atas nama Republik Indonesia memberikan Penghargaan Bintang Jasa Pratama kepada taipan ini, 25 Agustus 1998, diserahkan langsung oleh Menlu Ali Alatas di Gedung Deplu Pejambon, Jakarta.

Itulah dia kiprah Tong Djoe baik sebagai pengusaha maupun agen diplomatik bangsa. Prestasi yang ia torehkan terbukti dari baiknya hubungan negara kita baik dengan Singapura maupun RRC.

Kabar duka pun datang pada Senin (8/2/2021), pengusaha pejuang itu dikabarkan wafat pada usia 94 tahun. Hebatnya, meski banyak pengusaha dan pesohor negeri ini yang memilih pengobatan di luar negeri, Tong Djoe yang lama menetap di Singapura justru memilih dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan akhirnya meninggal dunia di Tanah Air. Selamat jalan Tong Djoe. (E-3/Pelbagai Sumber)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load