Pemerintah Jalin Kolaborasi Bisnis dengan Jepang

Rabu , 08 Agustus 2018 | 14:37
Pemerintah Jalin Kolaborasi Bisnis dengan Jepang
Sumber Foto industry.co.id
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishil dan Utusan Khusus Presiden untuk Jepang Rahmat Gobel saat meresmikan IJB-Net di Jakarta.

JAKARTA - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Rabu (8/8/2018) meresmikan organisasi kolaborasi bisnis Indonesia -Japan Business Network (IJB Net) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Menurut dia, IJB-Net hadir pada saat yang tepat di mana, pemerintah Indonesia sedang merancang pembentukan Komite Industri Nasional (KINAS), yang fokus kegiatannya adalah mengembangkan industri manufaktur yang memiliki daya saing global 4.0 terhadap indusri kecil menengah.

"Karenanya, kami sangat mendukung kehadiran lembaga ini, dengan harapan hubungan bisnis kedua negara dapat berkembang, terutama Industri manufaktur dari kedua negara," ujarnya.

Selain itu, IJB-Net juga akan terus mendorong kolaborasi bersama negara matahari tersebut, terutama dalam meningkatkan usaha kecil menengah agar berkembang dalam perindustrian global.

"Tentunya IJB-Net ini akan mendorong Small and Medium Entreprises, karena ini terdiri dari diaspora Indonesia yang ada di Jepang, dan juga diaspora Jepang yang ada di Indonesia. Mereka berkolabirasi mendukung untuk bekerjasama antar pengusaha Indonesia dan Jepang," katanya.

Berdasarkan data dari Bank of Japan for International Cooperation pada tahun 2013 negara yang paling diminati oleh industri manufaktur jepang adalah Indonesia.  Namun dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Hingga terakhir pada 2017 lalu, Indonesia menempati urutan bawah yang dikalahkan oleh China, India, Vietnam dan Thailand.

Sedangkan data dari Trade Statistics of Japan, Ministry of Finance pada 1990, angka total impor dari Indonesia pernah menduduki posisi nomor 2, dengan perolehan angka US$ 18 miliar atau 5,4 persen. Kemudian 10 tahun berikutnya, di tahun 2000 angka impor Indonesia ke Jepang turun ke posisi ke-5 sebesar US$ 17,7 miliar atau 4,3 persen.

Tahun 2010 turun kembali ke posisi ketujuh sebesar US$ 24,8 miliar atau 4,1 persen. Namun mulai 2015 hingga 2017, Indonesia sudah tidak masuk ke-10 besar negara importir Jepang.

Menurut Ketua Umum IJB-Net, Suyoto Rais, Indonesia saat ini masih mengadapi persoalan "Middle Hollow" antara hulu dan hilir. Karena Indonesia belum memiliki perkembangan tekhnologi yang mumpuni, sehingga produk-produk yang dihasilkan belum memberikan nilai tambah yang baik.

"Salah satu solusi mengisi middle hollow adalah kolaborasi bisnis antara Indonesia dan Jepang. Strateginya tentu yang terencana dan perlu dudukung oleh banyak pihak untuk mendekati pengusaha jepang yang tidak mudah didekati. Hal ini terlihat dari terus menurunya angka impor Jepang dari Indonesia," katanya.

Apalagi jika melihat posisi Jepang yang saat ini tengah mendirong industri kecil menengahnya. Dia menjelaskan, Small and Medium Entreprises Jepang belum berekspansi keluar negeri dan baru akan mempersiapkan."Mereka menyadari, cepat atau lambat. Bahwa mereka akan kekurangan bahan baku, SDM dan juga juga pasar. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pengusaha di negara lain, termasuk Indonesia," dia menambahkan.(ryo

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load