Rizal Ramli Salut Jokowi Akui Ekonomi Indonesia Sakit

Rabu , 01 Agustus 2018 | 17:22
Rizal Ramli Salut Jokowi Akui Ekonomi Indonesia Sakit
Sumber Foto cnnindonesia.com
Rizal Ramli

JAKARTA – Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyatakan dirinya mengapresiasi kejujuran Presiden Jokowi terkait tingkat pertumbuhan ekonomi yang lemah. Ia menilai, neraca perdagangan Indonesia negatif. Bahkan, kalah dari negara-negara lain di Asia Tenggara.

"Menteri keuangan terus bohong bikin laporan asal bapak senang, akhirnya Pak Jokowi akui ekonomi Indonesia sedang sakit. Saya salut Pak Jokowi sportif dan clear. Anak buah sering bikin laporan salah. Mengakui aja nggak cukup. Telat mengakuinya," kata Rizal Ramli di acara rembuń∑ nasional 100 tokoh nasional dan mantan aktivis mahasiswa dengan tema: "Ancaman Krisis Ekonomi" di Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Selanjutnya ia mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia tahun ini negatif kalah dari Asia Tenggara. Terhitung pada kuartal 1 negatif, angkanya mencapai 5,5 miliar US$ dolar. Menurut dia, krisis yang terjadi saat ini tidak begitu besar jika dibandingkan 1998.

"Betul tahun 1998 utang swasta lebih besar tapi pada waktu itu Indonesia punya tabungan dan bantalan ekonomi. Karena eksport 1,3 juta barel minyak bumi dan barang komoditi. Ketika 1998 krisis petani di daerah senang," ujarnya.

Selain itu, dia menceritakan bahwa saat ini Indonesia masuk ke krisis setengah lampu merah. Dua tahun lalu ia katakan Indonesia masuk lampu kuning. Namun semua prediksinya itu dibantah oleh banyak kalangan termasuk pemerintahan Jokowi saat ini.

"Persis seperti ‘96. Kami katakan bahwa ‘97 menjadi tahun ketidakjelasan dan ‘98 terjadi krisis tapi kami juga dibantah sebagai tidak benar. Bahwa fundamental ekonomi sangat sehat padahal kita tahu indikator utang swasta besar dan current account besar dan mata uang over value," ujarnya.

Ia juga manambahkan, realitas ekonomi saat ini mengharuskan beberapa tarif sektor usaha negara dinaikan. Contohnya, listrik dan BBM. "Udah mau rugi karena kalau selamatkan dengan cara konvensional maka BBM dan listrik harus dinaikkan 50 persen," dia menjelaskan.

Karena itu, Rizal Ramli berharap kondisi ekonomi menjadi lebih baik. Karena yang merasakan penurunan ekonomi Indonesia bukan hanya kaum kecil, tapi juga menengah. "Yang terpukul karena ada pelambatan ekonomi kita bukan hanya menengah ke atas tetapi 40 persen kalangan menengah dan 40 persen dari kalangan ke bawah. Kami harap ada perubahan di tahun 2019. Kita nggak mau masuk ke krisis masa lalu," dia menambahkan. (ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load