Said Didu Cemaskan Kondisi BUMN

Sabtu , 05 Desember 2020 | 02:02
Said Didu Cemaskan Kondisi BUMN
Sumber Foto Rakyat Cirebon
Said Didu

JAKARTA--Mantan Sekretaris BUMN Said Didu mencermati sulitnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mencari pembiayaan menyusul kapasitas BUMN untuk menambah utang semakin terbatas. "BUMN sedang hadapi sakratul maut ?" tulis Said Didu di akun Twitter @msaid_didu, seperti dikutip rri.co.id, Jumat (4/12).

Unggahan Said Didu ditanggapi politisi Partai Gerindra Fadli Zon. Menurut Fadli, BUMN harusnya mewujudkan komitmen Pasal 33 ayat 2 dan ayat 3.

"BUMN harusnya wujud komitmen Pasal 33 ayat 2-3. Cabang2 produksi penting, bumi, air n kekayaan alam dikuasai negara utk sebesar2 kemakmuran rakyat, bukan bebani APBN apalagi mewariskan utang pd rakyat," kata Fadli Zon di akun Twitter @fadlizon.

"Konsep “Trisakti” Bung Karno kelihatannya hanya tinggal jargon n kata2," tambahnya.

Terkendala

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengungkapkan banyak BUMN mulai terkendala dalam mencari pembiayaan. Pasalnya, kapasitas BUMN untuk menambah utang semakin terbatas.

"Saat kami serahkan ke BUMN untuk mencari pembiayaan sendiri, banyak BUMN kemudian mulai terkendala dalam kemampuan mencari pembiayaan utang," ujarnya dalam acara Serap Aspirasi Implementasi UU Cipta Kerja, Rabu (2/12) seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.

Dalam bahan paparan yang disampaikan Isa, rasio utang dibandingkan pendapatan kotor dan ekuitas BUMN atau Debt to Equity Ratio (DER) sejumlah BUMN mulai mendekati batas wajar. Untuk diketahui, batas wajar DER sendiri adalah 3 kali hingga 4 kali.

Misalnya, DER perusahaan konstruksi BUMN melebihi dan sebagian lain mendekati batas wajarnya. BUMN tersebut meliputi PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebanyak 5,76 kali, PT Waskita Karya (Persero) Tbk 3,42 kali, PT PP Properti Tbk 2,90 kali, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk 2,81 kali, dan PT Wijaya Karya (Persero) 2,70 kali.

Dikutip dari rri.co.id, sejumlah perusahaan pelat merah lain yang melebihi dan mendekati batas wajar DER yakni PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebesar 6,05 kali, PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk sebesar 4,83 kali, PT Timah (Persero) Tbk 2,82 kali, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 3,26 kali.

Di sisi lain, negara masih membutuhkan pendanaan untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan proyek strategis lain yang mendukung perekonomian. Tantangan lainnya, pembiayaan untuk proyek-proyek tersebut biasanya bersifat jangka panjang.



Sumber Berita: rri.co.id

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load