Diguyur Dana PEN, BPD Salurkan Kredit Rp 30,12 Triliun

Rabu , 25 November 2020 | 19:54
Diguyur Dana PEN, BPD Salurkan Kredit Rp 30,12 Triliun
Sumber Foto : Istimewa
Andin Hadiyanto

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai penempatan dana pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kepada Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp 14 triliun mampu memberikan stimulasi terhadap sisi suplai sektor ekonomi di daerah.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Andin Hadiyanto menyebutkan BPD mampu menyalurkan kredit sebesar Rp 30,12 triliun dari penempatan dana pemerintah tersebut kepada 146.592 debitur.

“Produktivitas dana pemerintah di BPD mendorong sisi supply berbagai sektor ekonomi di daerah,” katanya dalam RDP bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Andin menuturkan dana pemerintah pada BPD mampu mendorong sektor rumah tangga hingga 29,6 persen atau Rp 8,58 triliun dari keseluruhan penyaluran yang meliputi kredit kepemilikan rumah tinggal dan apartemen untuk dihuni, kendaraan bermotor, serta peralatan rumah tangga lainnya.

Kemudian untuk sektor perdagangan besar dan eceran mampu terdorong 18,1 persen atau Rp 5,26 triliun termasuk ekspor dan impor seperti hasil pertanian, binatang hidup, makanan, minuman, tembakau, tekstil dan pakaian jadi serta barang-barang keperluan rumah tangga.

Untuk sektor konstruksi, dana pemerintah berhasil mendorong kredit Rp 4,78 triliun atau 16,5 persen yang diberikan kepada debitur usaha penyiapan lahan, konstruksi gedung dan bangunan sipil, instalasi gedung dan bangunan sipil, serta penyelesaian konstruksi gedung.

Untuk sektor bukan lapangan usaha lainnya adalah Rp 4,05 triliun atau 14 persen yang meliputi kegiatan untuk pembiayaan dan pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat seperti pinjaman, pembiayaan, dan kredit tanpa agunan.

Untuk sektor industri pengolahan Rp 1,95 triliun atau 6,7 persen dari keseluruhan penyaluran yang meliputi kegiatan untuk mengubah bentuk atau mengolah menjadi barang baru baik dikerjakan dengan mesin maupun tenaga manusia.

Untuk sektor perantara keuangan Rp 1,32 triliun atau 4,6 persen meliputi usaha pegadaian, unit BPR/BPRS, usaha jasa keuangan lainnya seperti simpan pinjam serta asuransi.

Menurut Andin, kondisi BPD semakin stabil melalui adanya penempatan dana pemerintah karena profil risiko masih dalam skala low to moderate atau sehat.

Hal itu dibuktikan melalui rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) yang menurun dari kuartal II 2020 sebesar 3,26 persen menjadi 3,13 persen pada kuartal III 2020 sehingga menandakan pengendalian risiko kredit BPD sangat baik.

Tak hanya itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) juga baik yaitu meningkat 16 basis poin dari 20,69 persen pada kuartal II 2020 menjadi 20,85 persen pada kuartal III 2020.

“Setelah penempatan dana menunjukkan penguatan permodalan dan peningkatan terhadap aset-aset yang berisiko,” ujarnya. (E-3)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load