Pembelian SBN Secara Langsung oleh BI Bisa Dilanjutkan Tahun Depan

Senin , 28 September 2020 | 19:27
Pembelian SBN Secara Langsung oleh BI Bisa Dilanjutkan Tahun Depan
Sumber Foto : Istimewa
Gubernur BI Perry Warjiyo

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) melalui mekanisme secara langsung bisa dilanjutkan pada 2021 jika realisasi penyerapan surat utang itu belum mencapai target untuk membiayai public goods sebesar Rp 397 triliun.

“Yang plafon Rp 397 triliun itu kan bisa carry over tahun depan (2021), kalau realisasinya itu belum semua,” katanya ketika rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (28/9/2020).

Dalam paparannya, Gubernur BI menjelaskan hingga 24 September 2020 realisasi pembelian SBN melalui skema secara langsung baru terealisasi Rp 183,48 triliun.

Skema pembelian SBN secara langsung itu tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) BI dan Kementerian Keuangan pada 7 Juli 2020.

Seluruh dana pembelian SBN ini berasal dari BI termasuk semua beban ditanggung oleh bank sentral itu.

Dalam SKB itu, lanjut dia, disepakati pembelian SBN oleh bank sentral ini secara langsung hanya berlaku hingga tahun 2020.

“Pertanyaannya plafon Rp 397 triliun, baru realisasi Rp 183 triliun? Kembali ke masalah pandemi, perlu waktu realisasi anggaran dan bagaimana kami menggenjot realisasi anggaran, tentu saja Rp 397 triliun bisa terus dilakukan,” imbuhnya.

Sedangkan, SKB pertama per 16 April 2020, penyerapan dari BI masih akan dilanjutkan hingga 2022 sesuai dengan UU Nomor 2 tahun 2020 dengan posisi bank sentral ini sebagai pembeli siaga dari jumlah lelang yang diterbitkan pemerintah.

Hingga 22 September 2020, BI sudah menyerap Rp 51,17 triliun pembelian SBN di pasar perdana sesuai mekanisme pasar.

Total pembelian SBN sesuai SKB pertama itu, kata dia, masih di bawah 10 persen dari batas maksimal pembelian oleh BI yang mencapai 25 persen dari total SBN yang dikeluarkan pemerintah.

Dengan rendahnya realisasi penyerapan BI dalam pembelian SBN di pasar perdana sesuai SKB pertama, kata dia, menandakan pasar masih bisa menyerap mengingat posisi BI sebagai pembeli siap siaga jika pasar tidak mampu menyerap.

Jika digabung pembelian SBN oleh BI sesuai SKB pertama dan kedua, maka total pembelian SBN mencapai Rp 234,65 triliun. (E-3)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load