Recana Mogok Pilot Garuda Banyak Dikecam

Sabtu , 02 Juni 2018 | 19:44
Recana Mogok Pilot Garuda Banyak Dikecam
Sumber Foto Viva.co.id
Pilot Garuda Indonesia

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombusman RI mengecam rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh sekitar 1.300 pilot dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

YKLI menilai, jika sampai terjadi aksi mogok massal pilot Garuda Indonesia tersebut, maka konsumen lah yang akan menjadi korban. "Rencana mogok total SEKARGA dan APG, pada akhirnya adalah bentuk nyata pelanggaran hak-hak konsumen. Dan hal tersebut bisa menimbulkan sikap antipati konsumen kepada SEKARGA dan APG, bahkan kepada keseluruhan image GA sebagai perusahaan penerbangan," kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi seperti dilansir Tribunnews.com, Sabtu, (2/6).

Tulus pun meminta agar segera dilakukan negosiasi antara pihak pekerja dan manajemen terkait persoalan yang mereka hadapi."Oleh sebab itu kami meminta, bahwa agar SEKARGA dan APG untuk tidak mogok total kapan pun momennya, apalagi saat puncak arus mudik.
Bernegosiasilah secara intensif dengan pihak managemen GA dan pemerintah secara elegan, tanpa mengorbankan hak - hak konsumen," imbuhnya.

Selain YLKI, Ombudsman RI pun mengungkapkan kekhawatiran mereka.Terutama menyangkut kelancaran arus mudik lebaran. Apabila pilot dan kru mogok, bisa dipastikan jika arus mudik akan menjadi kacau. "Tentunya dapat membuat kekacauaan dalam arus mudik karena rencananya saat puncak arus mudik justru akan mogok," ujar Anggota Ombudsman Alvin Lie.

Hal tersebut lantaran Garuda diketahui mempunyi konsumen yang besar dan jumlah armada yang banyak. Apabila mogok, tentu akan berimbas kepada masyarakat secara luas.

Ombudsman RI juga mengungkapkan jika benar-benar mogok, maka trust dan simpati masyarakat kepada perjuangan serikat karyawan dan pilot Garuda hilang. Pihak ombudsman juga mengaku akan memantu terus perkembangan kasus Garuda Indonesia ini."Tentunya saya sebagai anggota Ombudsman ingin memastikan agar pelayanan publik tidak terganggu. Saya akan memantau terus perkembangan ini dan saya juga akan berkomunikasi dengan beberapa pihak agar meninjau kembali dan mengurungkan rencana aksi tesebut. Bermusyawarahlah para pihak, semoga cepat ada solusi," imbuh Alvin.

Miss Management

Dalam pernyataan resminya, Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA) yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Serikat karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sendiri menyampai beberapa krusial terkait rencana mogok kerja yang akan mereka lakukan.

Poin pertama, rencana mogok mereka lakukan sebagai upaya terakhir agar pemerintah mau berperan aktif membantu menyelamatkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. "Kami sudah mencoba memberikan masukan kepada Menteri BUMN sejak tahun 2017 tetapi tidak mendapat Respon yang diharapkan," tegas pernyataan yang ditandatangani oleh Ketua Umum SEKARGA, Ahmad Irfan dan Presiden APG, Bintang Hardiono.

Mereka juga menilai telah terjadi miss management dalam pengelolaan Garuda Indonesia yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. "Rencana mogok ini sebenarnya merupakan bukti kecintaan kami kepada Garuda Indonesia agar permasalahan miss management yang terjadi di tubuh Garuda Indonesia dapat diselesaikan oleh Pemerintah sehingga Garuda Indonesia tetap dapat membawa konsumen terbang tinggi membawa bendera Bangsa."

Aksi mogok Pilot Garuda tersebut juga dilatarbelakangi kinerja keuangan perseroan yang terus memburuk. "Kepada Mayarakat Indonesia kami memohon maaf yang sebesar besarnya atas rencana pelaksanaan mogok yang akan dilakukan karena pada saat ini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan Perusahaan Publik sedang mengalami penurunan kinerja di berbagai lini. Bahwa penurunan Harga saham GIAA yang terjadi terus menerus sampai dengan penutupan hari kamis 31 Mei 2018 pada harga Rp 254 per lembar, dibandingkan pada saat IPO harga saham Rp 750 per lembar. Kondisi ini sangat merugikan Perusahaan dan juga masyarakat luas, serta terjadi pengurangan pelayanan terhadap konsumen di
berbagai lini, dimana ini merupakan beberapa indikator dari terjadinya degradasi kinerja tersebut."



Sumber Berita: Berbagai Sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load