Pegadaian Pilih Percantik Diri Sebelum IPO

Kamis , 13 Februari 2020 | 15:47
Pegadaian Pilih Percantik Diri Sebelum IPO
Sumber Foto: Antaranews.com
Jajaran Direksi PT Pegadaian memaparkan sejumlah capaian perusahaan sepanjang 20

JAKARTA - PT Pegadaian (Persero) memilih untuk "mempercantik diri" dengan berbagai program saat ini dibanding melakukan penawaran saham perdana atau IPO, sehingga kelak bisa mendapatkan harga penawaran yang lebih tinggi.

"Kita sedang mempercantik diri agar ketika dilepas, maka harga yang ditawarkan bisa tinggi," kata Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak investor yang mengantre untuk membeli saham Pegadaian. Namun, perusahaan lebih memilih menguatkan berbagai program agar bisa membuat investor lebih tertarik.

"Program yang dikembangkan di antaranya adalah saham emas, digitalisasi, dan lainnya yang mendukung usaha, termasuk dari anak perusahaan," katanya.

PT Pegadaian (Persero) mencatatkan kinerja sepanjang 2019 dengan meraup laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun atau tumbuh 12 persen dan membukukan outstanding pembiayaan (OSL) sebesar Rp 50,4 triliun atau tumbuh 23,3 persen di atas rata rata industri nasional.

“Banyaknya kolaborasi dan sinergi dengan ratusan mitra dari BUMN, swasta, perguruan tinggi dan berbagai organisasi selama 2019 mendorong penambahan jumlah nasabah Pegadaian dari 10,64 juta di tahun 2018 menjadi 13,86 juta di tahun 2019 naik 3,2 juta,” jelas Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto.

Sementara kredit macet atau NPL gross sebesar 1,75 persen dan total realisasi pembiayaan sebesarRp 145,6 triliun dan non pembiayaan sebesar Rp 4,7 triliun.

Kinerja tersebut, didorong oleh sejumlah produk inovatif berbasis digital yang diluncurkan perseroan dan agresivitas dalam menjalin sinergi dan kolaborasi dengan ratusan mitra di Tanah Air.

Perseroan juga berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 17,7 triliun, naik 39,3 persen dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar Rp 12,7 triliun. Aset Pegadaian sepanjang 2019 meningkat 23,7 persen, menjadi Rp 65,3 triliun dari tahun sebelumnya Rp 52,8 triliun. (E-3/ant)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load