Stok Beras Bulog 1,8 Juta Ton

Rabu , 05 Februari 2020 | 13:15
Stok Beras Bulog 1,8 Juta Ton
Sumber Foto: Istimewa
Budi Waseso

JAKARTA - Komisi VI DPR RI memanggil sejumlah BUMN-BUMN pangan dalam Rapat Dengar Pendapat guna membahas kinerja perusahaan hingga 2019 dan prospek pengembangan bisnis 2020.

Rapat tersebut dibuka oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi PDIP Aria Bima dengan Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin, serta sejumlah direktur utama, antara lain Dirut Perum Bulog Budi Waseso, Dirut PT Perikanan Nusantara (Persero) M. Yana Aditya, Plt. Dirut PT Berdikari Oksan Panggabean, Dirut PT Pertani Febriyanto, Dirut PT Sang Hyang Seri Karyawan Gunarso dan Dirut PT Garam Budi Sasongko.

"Agenda rapat hari ini membahas mengenai isu aktual di masing-masing BUMN," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Aria Bima di Ruang Rapat Komisi IV DPR Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Dalam rapat tersebut, Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyampaikan bahwa saat ini stok beras di gudang saat ini mencapai 1,8 juta ton, terdiri dari beras CBP (cadangan beras pemerintah) sebanyak 1,7 juta ton dan beras komersial 121.162 ton.

Budi Waseso atau akrab disapa Buwas, menjelaskan bahwa guna memotong rantai distribuso beras, Bulog telah meluncurkan 50 merek beras premium melalui platform e-commerce Shopee, bernama PangananDotCom.

"Produk beras yang ditawarkan lewat e-commerce ini untuk program BPNT dan KPSH operasi pasar. Untuk meningkatkan layanan, Bulog menjual beras BPNT melalui e-commerce, sehingga bisa diantar langsung ke rumah," kata Buwas.

Sementara itu, Plt. Dirut PT Berdikari Oksan Panggabean menjelaskan bahwa pada tahun 2020, BUMN tersebut berencana memiliki rumah potong hewan.

"Kami akan mengakuisisi rumah potong hewan unggas 4.000 ekor per jam. Pemasaran kami adalah pasar-pasar BUMN yang akan kami integrasikan dari hulu sampai hilir," kata Oksan.

Selain itu, PT Berdikari juga akan mendukung program Kementerian Pertanian dalam meningkatkan populasi sapi indukan. Berdikari menyatakan siap untuk membantu mengadakan sapi indukan dalam rangka menghentikan impor daging yang dibutuhkan sekitar 250.000 ton per tahun.

Ada pun PT Pertani saat ini masih menderita kerugian sebesar Rp 86,5 miliar pada tahun 2019. BUMN tersebut pernah meraup untung pada 2016 sekitar Rp 5,5 miliar dan tahun 2017 sekitar Rp 25,5 miliar.

"Sejak tahun 2016-2017, ada penugasan pemerintah (PSO). Setelah tidak ada PSO, kami mengalami penurunan laba," kata Dirut PT Pertani Febriyanto. (E-3/ant)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load