Waspada Terhadap Perdagangan Bebas Dunia!

Selasa , 28 Januari 2020 | 12:01
Waspada Terhadap Perdagangan Bebas Dunia!
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman

PATUT diketahui bahwa mulai tanggal 1 Januari 2020 dunia mulai mempraktekan Perdagangan Bebas untuk barang dan jasa (Free Trade in Goods and Services).

Ini sebagai pelaksanaan dari pada kesepakatan 115 negara, pada tahun 1993, sebagai hasil perundingan Putaran Uruguay (Uruguay Rounds) selama 7 tahun, yakni mulai tahun 1987 sampai dengan bulan September 1993 bertempat di Geneva, Switzerland.

Kebetulan penulis diberi tugas oleh Bapak Menteri Keuangan Republik Indonesia, Drs. Mar’ie Muhamad untuk memimpin delegasi Indonesia untuk berunding bersama 115 negara peserta dibidang perdagangan jasa-jasa (Trade in Services).

Penulis diberi amanat untuk menawarkan empat sektor saja, dari 120 sektor perdagangan jasa-jasa di dunia. Adapun keempat sektor itu adalah :
1) Sektor Keuangan dan Perbankan, adalah bidang yang sudah penulis geluti atau gumuli dari tahun 1981 sampai tahun 1993. Ketika itu penulis diberi kepercayaan memimpin Direktorat Lembaga Keuangan yang membina : Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), seperti : Leasing, Factoring, Venture Capital. Kemudian menghidupkan lembaga Pasar Modal.

Pada waktu itu, Pengarahan dari Bapak Menteri Keuangan adalah sebagai berikut, “Silahkan Bung Marzuki Usman mengurasi segala keahlian dan keterampilan bernegosiasi, sehingga menguntungkan rakyat dan bangsa Indonesia!”

2) Sektor Pariwisata, dengan Pengarahan dari Menteri Pariwisata dan Postel sebagai berikut, “Untuk Kawasan Barat Indonesia, Investasi asing (PMA) hanya boleh memiliki saham paling banyak 49%, sedangkan pemilik saham yang 51%, diserahkan kepada Investor Indonesia (Penanaman Modal Dalam Negeri – PMDN). Untuk kawasan Timur Indonesia, PMA boleh memiliki saham, bahkan boleh sampai 90 %”

3) Sektor Perhubungan, disini banyak istilah teknis (jargon), seperti : Cabotage, yang ditawarkan untuk dibuka kepada pelaku ekonomi sedunia, bagi Perusahaan Pelayaran asing. Untung pada saat negosiasi itu, dalam hal ini penulis diberi tahu oleh Ibu Ketua Delegasi Philipina, bahwa, “Kalau hal seperti ini ditawarkan kepada Perusahaan Pelayaran Asing (PMA), maka hal itu akan mematikan perusahaan pelayaran Nasional Republik Indonesia”. Maka, penulis ambil inisiatif sendiri untuk tidak menawarkan cabotage ini, tanpa menanti petunjuk dari Jakarta?

4) Sektor Telekomunikasi dan Komunikasi (Telkom). Dalam hal ini banyak sekali istilah-istilah teknis (Jargon) yang penulis tidak mengerti. Alhamdulillah pada waktu itu penulis dibantu oleh Pakar Telkom, Bapak Jonathan Parapak (Sekjen. Departemen Parpostel) yang piawai (canggih) didalam bernegosiasi dibidang ini.

Pada saat Perundingan Final (Final Negosiation), peserta dari 115 negara mengajukan pertanyaan, “Kapan kita 115 negara ini akan mempraktekan Dagang bebas dibidang barang dan jasa (Free Trade in Goods and Services). Penulis mengusulkan, mulai tahun 2093, yang artinya butuh waktu 100 tahun lagi. Semua peserta menolak. Penulis sebenarnya ada alasan untuk mengusulkan, tunggu 100 tahun lagi, karena pastilah penulis sudah wafat dan tidak akan menyaksikan bahwa bangsa Indonesia menjadi Pecundang.

Maka penulis tawarkan lagi, mulai tahun 2050, atau 2020. Para anggota yang 115 negara itu akhirnya sepakat memilih tahun 2020, untuk mulai perdagangan bebas untuk barang dan jasa diberlakukan kepada 115 negara yang menjadi anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization – WTO), yang pada waktu itu akan dibentuk pada tahun 1995.

Pada waktu itu, Bapak Presiden R.I berujar, “Mau tidak mau! Suka tidak suka! Siap tidak siap! Dunia akan mempraktekan “Liberalisasi dalam perdagangan barang dan jasa, mulai tahun 2020”

Tetapi peringatan itu, nyatanya tidak membuat Bangsa Indonesia bersiap untuk mengarungi Era Perdagangan Bebas Dunia. Kita hanya membentuk Direktorat Jenderal WTO di Kementerian Perdangan pada tahun 1996. Dan, pengertian serta pemahaman praktek Perdagangan Bebas Barang dan Jasa belum tercerna oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Pada hal tanggal 1 Januari 2020, yang sudah terjadi sekarang ini, Bebas Perdagangan Barang dan Jasa di dunia ini.

Ancaman

Apakah ancaman (Threats) kepada Industri Indonesia? Saya yakin bahwa sudah mulai tanggal 1 Januari 2020, tenaga ahli asing seperti lulusan dari Universitas terkenal di Amerika Serikat : Harvard, Yale, Duke, MIT, Stanford, dan sebagainya sudah akan berdatangan ke Indonesia. Dan demikian juga, barang-barang produksi asing sudah mulai membanjiri Indonesia.

Risiko

Kalau kita tidak berbuat apa-apa, maka janganlah nanti kita menyesal, melihat barang luar negeri, dan tenaga ahli luar negeri memulai membanjiri Indonesia. Agar supaya risiko seperti ini tidak akan terjadi, maka marilah segenap unsur bangsa Indonesia bekerja keras dan cerdik. Sehingga hasilnya, barang-barang buatan Indonesia, dan tenaga ahli Indonesia akan membanjiri dunia. Semoga Allah Ridho. Amin. (Marzuki Usman)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load