Pelajaran dari Qatar, Mengubah Ancaman Menjadi Peluang

Senin , 20 Januari 2020 | 08:07
Pelajaran dari Qatar, Mengubah Ancaman Menjadi Peluang
Sumber Foto : Istimewa
Marzuki Usman

PENULIS sebagai penceramah, setiap diundang pada suatu perusahaan, untuk memberikan semangat supaya pegawai perusahaan itu bekerja keras dan cerdik, yakni untuk meningkatkan produktivitas setiap karyawan, supaya hasil akhirnya, perusahaan itu menghasilkan keuntungan yang selalu menaik.

Penulis selalu meminjam prinsip SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats), atau dalam bahasa Indonesianya KEKAPAN (Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman.

Dan ternyata di Qatar, negara Liliput di tengah padang pasir di Jazirah Arab Saudi, ancaman blokade dari Saudi Arabia dan teman-temannya (Negara Teluk yang lain-lainnya), yang bermaksud menyingkirkan Qatar dari Jazirah Arab, ternyata membuat Qatar ekonominya menjadi mandiri (Self Sufficient), dan bahkan sudah mengekspor produk : sayuran, buah-buahan, dan makanan, seperti : tomat, ketimun, telur ayam, ayam, wortel, semangka, daging, dan sebagainya. Semuanya itu sudah di ekspor ke : Iran, Pakistan, Turki, dan sebagainya.

Penulis lagi memirsa siaran TV Aljazirah, pada hari Sabtu pagi, tanggal 24 Februari 2018, menjadi terpukau dan takjub, menyaksikan petani Qatar yang membudidayakan Pertanian Rumah Hijau (Green House) yang memanfaatkan teknik pertanian organik. Petani Qatar mengatakan teknik pertanian itu yang disebut, “Artificial Agroculture”.

Hebat rakyat Qatar, dari hidup di bawah tenda, kekurangan air, miskin, sekarang sudah berubah menjadi kehidupan modern dan berkualitas. Alhamdulillah, mereka mensyukuri nikmat Allah dan merubah ancaman (Threats) menjadi peluang (Opportunities). Mereka melaksana Firman Allah, “Engkau seperti yang Engkau harapkan!”

Mereka mensyukuri nikmat gas alam yang melimpah ruah di Qatar. Akibatnya gas alam itu menghasilkan tenaga listrik yang murah. Dan biaya melaksanakan Green House adalah murah sekali.

Rakyat Qatar terbukti sebagai hamba Allah, di bawah pimpinan Emir Qatar, mereka terbukti telah berhasil merubah ekonomi Qatar dari bergantung kepada Saudi Arabia dan teman-temannya, berubah menjadi ekonomi Qatar yang mandiri dan sudah berubah juga menjadi negara pengekspor barang-barang makanan, kebutuhan hidup manusia sehari-hari, ke negara-negara, seperti : Pakistan, Iran, Turki. Dan penulis, yakin sebentar lagi rakyat Indonesia akan membeli dari Qatar : mentimun, tomat, semangka, ayam, daging, telor, dan sebagainya, di super market, bahkan sampai dijual-jual juga di warung-warung di 110.000 desa di Indonesia? Apabila hal seperti yang diduga penulis betul-betul terjadi di Indonesia, maka alangkah malunya kita, bahwa sebagai negara yang ditancap apa saja tumbuh, dilempar saja tumbuh, hujan melimpah ruah, tanahnya subur sekali. Apa salahnya dengan Indonesia?

Pelajaran dari rakyat Qatar, adalah mari mempraktekan mengubah ancaman menjadi peluang. Jangan menghabiskan waktu dengan merenungi nasib, tetapi haruslah bekerja keras dan cerdik untuk merubah nasib! Kata orang kaya di Jakarta, “Nasib ditangan kita dan takdir ditangan Allah”. Kalau ingin menjadi kaya punyalah mimpi menjadi kaya, dan bekerjalah secara keras dan cerdik. Itu yang penulis lihat dari berita TV Aljazirah itu, bagaimana rakyat Qatar merubah Qatar dari negara Liliput, miskin dan terbelakang, sekarang sudah berubah menjadi negara yang kaya, dan modern.

Penulis sangat yakin sekali, bahwa kalau Qatar bisa, pastilah Indonesia akan lebih bisa. Jangan biarkan Indonesia menjadi negara yang miskin, dan bergantung kepada kasihan dari negara-negara kaya! Allah berfirman, “Engkau telah Aku berikan keinginan (Iradah), dan kekuatan (Qodrad). Maka, bekerjalah keras dan cerdik untuk membuat engkau menjadi kaya dan bermartabat. Wahai generasi muda Indonesia, supaya engkau, malulah kepada generasi muda Qatar! Ayo belajarlah ke Qatar !!! (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom dan pakar pasar modal.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load