Dirut PTPN XIII: Dari 14 PTPN, Kami Paling Hancur

Kamis , 05 Desember 2019 | 20:00
Dirut PTPN XIII: Dari 14 PTPN, Kami Paling Hancur
Sumber Foto: Antara
RDP Komisi IV DPR RI dengan Dirut PT Perkebunan Nusantara I s.d XIV

 

JAKARTA - Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII Alexander Maha menyebutkan kinerja keuangan perusahaannya yang paling merugi di antara 13 perusahaan lainnya yang berada di bawah naungan Holding Perkebunan Nusantara.

Hal itu diungkapkan Dirut PTPN XIII dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI. Rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi IV Sudin dari Fraksi PDIP itu membahas prospek pengembangan usaha perkebunan.

"Bahwa dari 14 PTPN, PTPN XIII ini yang paling hancur. Ini statement saya, Pak. Kerugian sampai Oktober tahun 2019 adalah sebesar Rp 605 miliar," kata Alexander dalam RDP dengan Komisi IV di Kompleks DPR/MPR Senayan Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Dalam catatan kinerja operasional dan keuangan sejak 2016, PTPN XIII telah mengalami rugi yakni sebesar Rp 657,7 miliar (2016), kemudian pada 2017 rugi sebesar Rp 547,2 miliar, kemudian pada 2018 rugi sebesar Rp 884,2 miliar, dan hingga Oktober 2019 tercatat masih rugi sebesar Rp 605 miliar.

Selain itu, pendapatan perusahaan juga menurun signifikan dari Rp 2,47 triliun pada 2017 menjadi Rp 1,39 triliun pada 2018.

Bahkan, menurut Alexander, PTPN XIII dapat dikatakan bangkrut, karena total ekuitas yang negatif mencapai Rp2 triliun pada 2019.

Sejumlah alasan yang menyebabkan perusahaan terus merugi, antara lain pembelian Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan plasma. Produktivitas TBS juga terlihat menurun karena lahan perkebunan kelapa sawit yang perlu diremajakan. Tercatat produksi TBS PTPN XIII pada 2017 sebesar 218.796 ton, kemudian anjlok pada 2018 sebesar 140.600 ton.

Alexander menjelaskan replanting atau peremajaan lahan perkebunan tidak kunjung dilakukan karena ada pengembangan wilayah seluas 22.143 hektare.

Oleh karena itu, perusahaan pun melakukan sejumlah strategi untuk perlahan membalikkan keadaan keuangan yang saat ini terus merugi, yakni dengan pembelian dari kebun plasma dan bekerja sama dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang lebih baik.

"Mulai sekarang kita beli TBS plasma dengan manajemen dan PKS yang perform," kata Alexander. (E-3/ant)

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load