• Selasa, 26 September 2023

Angka Kemiskinan DIY Tertinggi di Indonesia, Apa Pemicunya?

- Sabtu, 21 Januari 2023 | 08:28 WIB
Angka kemiskinan DIY tertinggi di Indonesia, apa pemicunya?  (Relung/Istimewa)
Angka kemiskinan DIY tertinggi di Indonesia, apa pemicunya? (Relung/Istimewa)

SINAR HARAPAN - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Budiharto Setyawan, mengungkapkan angka kemiskinan DIY tertinggi di Indonesia dipicu oleh pola konsumsi masyarakatnya cenderung sederhana.

"Pola konsumsi masyarakat DIY cenderung unik, yang relatif berbeda dibandingkan daerah lain. Mayoritas masyarakat DIY memiliki budaya yang kuat dalam menabung dibandingkan dengan konsumsi," kata Budiharto melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Jumat 20 Januari 2023.

Menurut Budiarto, jika dilihat dari struktur lapangan pekerjaan, mayoritas pekerjaan masyarakat DIY adalah UMKM dan didominasi tenaga kerja sektor informal yang mencapai 53,38 persen.

Baca Juga: Harga Kedelai Masih Tinggi, Mendag Komitmen Turunkan Harga Jadi Rp11.000-Rp12.000/kg

Walaupun mayoritas masyarakat telah memiliki pekerjaan, kata dia, secara statistik kemiskinan DIY dianggap masih tinggi yang mencapai 11,49 persen atau menduduki peringkat ke-12 provinsi dengan kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Pemicu lainnya adalah metode pengukuran statistik yang belum sepenuhnya dapat menggambarkan keseimbangan kemampuan berbelanja masyarakat DIY yang sebenarnya.

Budiharto menyebut tingkat simpanan masyarakat DIY di bank selalu lebih tinggi dibandingkan tingkat kredit.

Baca Juga: Inilah 10 Perusahaan Dengan Gaji Tertinggi di Indonesia, Para Pencari Kerja Wajib Tahu!

Secara rata-rata, menurut dia, rasio kredit dibandingkan dengan simpanan rumah tangga di DIY dalam 10 tahun terakhir berkisar 66,78 persen yang berarti masih rendah apabila dibandingkan dengan rasio ideal 80-90 persen.

Kondisi tersebut, kata dia, terus menjadi problem secara statistik karena penduduk dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

"Dengan demikian, semakin rendah pengeluaran penduduk maka akan semakin dekat dengan kemiskinan," kata dia.

Baca Juga: Sempat Terangkat oleh Jimin BTS dan PSG, Harga Saham DIOR Kembali Jatuh

Sementara itu, kesenjangan pendapatan yang dilihat dengan pengeluaran penduduk lokal dengan penduduk pendatang sangat tinggi yang didominasi pola konsumsi produk tersier.

Mayoritas penduduk pendatang, kata dia, melakukan pengeluaran yang signifikan lebih besar, terutama untuk produk makanan jadi, sewa rumah, maupun produk gaya hidup, seperti perawatan kecantikan dan kesehatan.

Halaman:

Editor: Yuanita SH

Sumber: ANTARA, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Logistik Pertama Untuk Ajang MotoGP Tiba di Mandalika

Minggu, 24 September 2023 | 21:04 WIB

Optimalkan Operasional Tambang, SMGR Gunakan QMCC

Minggu, 24 September 2023 | 15:46 WIB
X