SINAR HARAPAN - Pembangunan proyek smelter yang dilakukan PT Freeport Indonesia (PT FI) di kawasan Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur telah mencapai 51,7 persen dan ditargetkan selesai konstruksi pada akhir 2023.
Smelter itu disebut akan menjadi bagian penting dalam ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang sedang dicanangkan pemerintah.
"Hingga akhir Desember 2022, pembangunan proyek tersebut telah mencapai 51,7 persen dan menelan investasi sekitar US$1,63 miliar atau setara Rp25 triliun. Proyek ditargetkan selesai konstruksi pada akhir 2023," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Toni Wenas dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu 14 Januari 2023.
Baca Juga: Erick Thohir: Qatar Investasi 80 juta dolar AS, Bangun Hotel di Labuan Bajo
Tony juga mengatakan ekosistem electric vehicle (EV) itu terdiri dari nikel, kobalt, aluminium, tembaga, grafit dan besi.
"Tentu saja menjadi bagian penting electric vehicle Indonesia dan akan menjadi bagian penting renewable energy yang banyak dibangun di sejumlah negara, karena 65 persen tembaga dunia dipakai untuk menghantarkan listrik," katanya.
Tony mengungkapkan kapasitas pengolahan konsentrat smelter yang terletak di kawasan Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik tersebut sebesar 1,7 juta dry metric ton (dmt) per tahun, dengan salah satu produk smelter yang dihasilkan adalah katoda tembaga yang mencapai 600 ribu ton.
Baca Juga: Cukai Rokok Naik, Harga Saham Wismilak (WIIM) Lanjutkan Sideways
Tony menargetkan konstruksi dan bangunan fisik serta peralatan vital di Gresik akan dapat selesai pada akhir tahun 2023. Kemudian dilanjutkan dengan pre-commissioning dan commissioning, sehingga fasilitas pemurnian tersebut beroperasi pada Mei 2024.
"Dengan profitabilitas dan harga membaik lagi, asumsi harga tembaga 4 dolar AS dan emas US$1.800, kami akan mencapai US$4 miliar (atau Rp60,59 triliun, asumsi kurs Rp15.148 per dolar AS)," kata Tony.
Dari segi SDM, Freeport sudah memulai rekrutmen dan pembinaan, sehingga smelter Freeport akan dioperasikan sendiri. Pembangunan ini telah menyerap biaya 1,63 miliar dolar AS atau sekitar Rp25 triliun.
Baca Juga: BMW Group Indonesia Cetak Rekor Penjualan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Tony memastikan smelter ini dibangun dengan desain single line atau satu jalur dan menjadi yang terbesar di dunia. Dia berharap total 600.000 ton logam tembaga dapat dikonsumsi oleh industri hilir dalam negeri.
"Industri yang lebih hilir tumbuh lebih baik untuk mendukung ekosistem EV maupun kebutuhan lain dalam negeri. Ini memancing industri hilir tumbuh apabila disertai kebijakan dan promosi yang tepat," tuturnya.***
Artikel Terkait
Penyaluran KUR Bank Mandiri (BMRI) Tembus Rp40 Triliun
Bank Syariah Indonesia (BRIS) Catatkan Pembiayaan Bisnis Emas Rp5,93 Triliun
Cuitan Elon Musk Ramai di Twitter, Luhut: Nanti Minggu Depan Kami Masih Bicara Lagi
PGAS Siap Realisasikan Jaringan Gas Jambi Tahun Ini
Perkuat Lini Bisnis, PT Pupuk Indonesia Ganti Nama Anak Usaha
Harga Emas Naik Lagi di Akhir Pekan, Ada Apa?
Harga CPO Malaysia Anjlok, CPO Jambi Alami Kenaikan
BMW Group Indonesia Cetak Rekor Penjualan Tertinggi Sepanjang Sejarah
Cukai Rokok Naik, Harga Saham Wismilak (WIIM) Lanjutkan Sideways
Erick Thohir: Qatar Investasi 80 juta dolar AS, Bangun Hotel di Labuan Bajo