• Rabu, 30 November 2022

Indonesian Upstream Oil and Gas 2022 Resmi Dibuka, Transisi Energi Butuh Investasi US$179 Miliar

- Rabu, 23 November 2022 | 16:42 WIB
Indonesian Upstream Oil and Gas 2022 resmi dibuka, transisi energi butuh investasi US$179 miliar. (ANTARA)
Indonesian Upstream Oil and Gas 2022 resmi dibuka, transisi energi butuh investasi US$179 miliar. (ANTARA)

SINAR HARAPAN - Pada hari ini, Rabu 23 November, 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) resmi dibuka. Konvensi tersebut juga membahas mengenai tren global, yakni transisi energi yang sangat mempengaruhi industri migas.

Dalam pembukaan acara tersebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengungkapkan bahwa Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) menghadapi tantangan besar seiring dengan transformasi global menuju transisi energi bersih untuk mengurangi emisi CO2.

Namun, merealisasikan transisi energi membutuhkan dana yang tidak sedikit, bahkan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan industri hulu migas Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$179 miliar.

Baca Juga: PT Adhi Karya (ADHI) Raih Kontrak Baru Rp19,1 Triliun, Saham ADHI Bagaimana?

Dana investasi tersebut untuk mendukung transisi energi yang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi baru terbarukan. Maka dari itu, industri hulu migas berupaya menggenjot target produksi minyak satu juta barel per hari.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, juga mengatakan bahwa transisi energi menjadi tren global yang mempengaruhi industri migas. Hal tersebut juga membuat beberapa perusahaan minyak besar telah memasukkan pengurangan karbon dan investasi energi terbarukan dalam strategi portofolio mereka.

Dwi menambahkan sembari memenuhi ambisi mewujudkan emisi nol dengan transisi energi, pihaknya juga tetap perlu memaksimalkan nilai sumber daya minyak dan khususnya gas. Tujuannya untuk memastikan keamanan dan keterjangkauan energi di kawasan.

Baca Juga: Sempat Sentuh Area Support, Saham GPRA Melesat 15,05 Persen

Untuk itu, industri hulu migas berupaya menggenjot target produksi minyak satu juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas 12 standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.

Untuk mengejar target lifting migas tersebut, dibutuhkan upaya kuat untuk meningkatkan iklim investasi migas di Indonesia.

"Investasi yang signifikan dan partisipasi aktif dari pelaku domestik dan internasional diperlukan untuk membuka potensi migas. Menyadari hal tersebut, pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk bekerja sama dengan para kontraktor," imbuh Dwi.

Baca Juga: PDB Global Diproyeksikan Turun, Asia Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Ekonomi

Ia menyebutkan lima strategi utama yakni mengoptimalkan produksi lapangan yang ada, transformasi sumber daya kontingen menjadi produksi dan mempercepat Enhanced Oil Recovery (EOR) kimiawi.

Selanjutnya, mendorong kegiatan eksplorasi migas dan percepatan peningkatan regulasi melalui One Door Service Policy (ODSP) dan insentif hulu migas.***

Editor: Yuanita SH

Sumber: ANTARA, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sah! UMP Jawa Barat Tahun 2023 Naik 7,8 Persen

Selasa, 29 November 2022 | 05:57 WIB
X