• Sabtu, 20 Agustus 2022

Euro Merosot Ke Posisi Terendah Dalam Dua Dekade Karena Kekhawatiran Resesi

Banjar Chaeruddin
- Rabu, 6 Juli 2022 | 08:21 WIB
Ilustrasi (uangindonesia.com)
Ilustrasi (uangindonesia.com)

SINARHARAPAN--Permintaan safe-haven memperkuat dolar ke level yang terakhir terlihat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), sementara euro merosot ke posisi terendah dua dekade karena lonjakan terbaru harga gas Eropa memicu kekhawatiran resesi.

Indeks dolar melonjak 1,6 persen pada satu titik dan euro turun sebanyak 1,75 persen ke posisi terendah yang terakhir terlihat pada akhir 2002. Itu adalah penurunan satu hari terbesar untuk euro dan kenaikan satu hari terbesar dolar sejak COVID-19 mengguncang pasar pada Maret 2020.

Mata uang lainnya juga jatuh karena kekhawatiran resesi melemahkan saham-saham di Eropa dan di Wall Street. Yen Jepang mendekati posisi terendah 24 tahun lagi, dolar Kanada jatuh ke posisi terendah hampir 19 bulan dan krona Norwegia jatuh lebih dari 2,0 persen karena pekerja gas mogok, menambah kekhawatiran pertumbuhan Eropa.

Baca Juga: Dolar AS Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir Terhadap Yen, Euro?

Risiko Eropa tergelincir ke dalam resesi meningkat setelah lonjakan harga gas alam sebesar 17 persen di Eropa dan Inggris tampaknya akan mendorong inflasi lebih tinggi lagi.

Kekhawatiran tentang bagaimana Bank Sentral Eropa (ECB) akan bereaksi mengikis sentimen setelah Kepala Bundesbank Jerman Joachim Nagel pada Senin (4/7/2022) mengecam rencana ECB untuk mencoba melindungi negara-negara berutang tinggi dari lonjakan suku bunga pinjaman.

Sentimen penghindaran risiko (risk-off) berlaku di pasar karena krisis energi membayangi di Eropa, kata Kepala Strategi Valas Amerika Utara CIBC Capital Markets, Bipan Rai, di Toronto.

"Ancaman resesi di zona euro adalah risiko yang lebih jelas sekarang dibandingkan sebelumnya," kata Rai.

Baca Juga: Dolar AS Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir Terhadap Yen, Euro?

Pedagang mengatakan kepada Reuters tentang pesanan dolar yang besar di awal perdagangan London yang memicu reaksi berantai dan mempercepat penurunan euro saat menembus level terendah 2017 hingga jatuh ke 1,0236 dolar.

Volatilitas yang berat juga membuat euro turun ke level terendah terhadap franc Swiss sejak bank sentral Swiss (SNB) meninggalkan batas mata uangnya pada 2015. Euro jatuh juga terhadap sterling, meskipun kekhawatiran ekonomi dan politik pound sendiri telah meninggalkannya di bawah 1,20 dolar lagi.

Penurunan euro hanyalah tanda peringatan tentang apa yang mungkin terjadi akhir bulan ini jika gas Rusia ke Jerman dihentikan, sebuah langkah yang dapat mendorong mata uang untuk menembus paritas dan jatuh menuju 0,98 dolar pada Agustus, kata Nomura Securities.

Baca Juga: Euro dan Rubel Rusia Merosot di Perdagangan Asia
"Kami memiliki bank sentral yang tampaknya berada triliunan mil di belakang kurva dan lebih memperhatikan pertumbuhan daripada inflasi," kata Presiden dan Kepala Investasi Merk Investments Palo Alto,  Axel Merk, di California.

"Tak satu pun dari bank sentral, termasuk (Presiden ECB Christine) Lagarde, akan mengatakan bahwa mungkin ada yang salah dengan pendekatan mereka."

Dengan euro mendekati posisi terendah dua dekade, volatilitas telah melonjak dan perdagangan opsi telah meningkat, kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler.

Baca Juga: The Fed Tunjukkan Keseriusan Perangi Inflasi, Kurs Rupiah Melemah 14 Poin

"Apakah itu bermain untuk sisi negatif seperti langkah spekulatif atau apakah itu lindung nilai terhadap euro yang panjang, saya tidak bisa memberi tahu Anda," kata Chandler.

Sterling merosot ke level terendah dua tahun terhadap dolar pada Selasa (5/7/2022) karena krisis di pemerintahan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menambah tekanan pada mata uang yang sudah terhuyung-huyung dari kekhawatiran resesi dan kebangkitan greenback. Pada 19.30 GMT diperdagangkan 1,25 persen lebih rendah di 1,195 dolar.

Dolar Australia jatuh meskipun negara itu mengalami kenaikan suku bunga 50 basis poin pertama berturut-turut, yang juga memperkuat kenaikan suku bunga tercepat di sana sejak 1994.

Aussie turun 1,4 persen menjadi 0,677 dolar AS, setelah diperdagangkan setinggi 0,6895 dolar AS pada hari sebelumnya. Sekarang turun hampir 7,0 persen tahun ini.

Penguatan dolar mendorong yen turun menuju level terendah 24 tahun, sebelum memangkas beberapa penurunan. Yen terakhir di 135,705 per dolar.

Eropa Timur juga merasakan panas karena negara-negaranya adalah yang paling bergantung pada gas Rusia. Indeks valas mata uang negara berkembang utama MSCI mencapai level terendah sejak November 2020 dengan mata uang terkait Euro seperti forint Hongaria, zloty Polandia dan leu Rumania turun 1,6-2,3 persen terhadap dolar.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Antara

Tags

Terkini

IHSG Terkoreksi, Saham SMGR Masuk Top Losers

Jumat, 19 Agustus 2022 | 16:24 WIB

IHSG Hijau! Saham ADRO, ADMR, dan CRAB Menguat

Jumat, 19 Agustus 2022 | 13:11 WIB

Tren Harga Emas Masih Turun Hari Ini

Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Perkuat Lini Bisnis! CENT Akuisisi 289 Menara

Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:46 WIB

BRIS Akan Rights Issue, Efek Dilusi 12,73 Persen

Kamis, 18 Agustus 2022 | 19:55 WIB

Migas Aman, Pertamina Temukan Cadangan Minyak Terbaru

Kamis, 18 Agustus 2022 | 12:55 WIB

Wah, Harga Emas Antam Turun Lagi!

Kamis, 18 Agustus 2022 | 09:33 WIB

Bursa Asia Ditutup Hijau! IHSG Hari Ini Bagaimana?

Kamis, 18 Agustus 2022 | 07:32 WIB
X