• Rabu, 10 Agustus 2022

Perjanjian Dagang Dengan UEA Berlakukan Tarif 0% Mulai 1 Januari 2023

Banjar Chaeruddin
- Senin, 4 Juli 2022 | 17:20 WIB
Menperdag Zulkifli Hasan dan pejabat tinggi UEA setelah menandatangani perjanjian kedua negara di Abu Dhabi beberapa waktu lalu (DOK)
Menperdag Zulkifli Hasan dan pejabat tinggi UEA setelah menandatangani perjanjian kedua negara di Abu Dhabi beberapa waktu lalu (DOK)

SINARHARAPAN--Kementerian Perdagangan (Kemendag) menindaklanjuti hasil perjanjian Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Emirat Arab (Indonesia–United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement/IUAE–CEPA) dengan segera melakukan ratifikasi.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko B Witjaksono menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan ratifikasi atas perjanjian tersebut mengingat besarnya potensi ekonomi yang akan didapat kedua negara.

"Tanpa ada ratifikasi, penandatanganan itu tidak berarti apa-apa. Saat ini kita sedang menyusun rencana aksi dalam kaitan pascapenandatanganan," kata Djatmiko dalam konferensi pers daring yang dipantau di Jakarta, Senin.

Djatmiko mengatakan ratifikasi atau pengesahan IUAE–CEPA akan dilakukan bersama oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebelum akhirnya nanti dapat berlaku.

Proses ratifikasi ditargetkan bisa diselesaikan hingga akhir tahun 2022 sehingga para pelaku usaha kedua negara dapat memanfaatkannya mulai awal bulan Januari tahun 2023.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan saat mulai dilaksanakan pada 1 Januari, 90 persen barang Indonesia akan mulai diberlakukan 0 persen tarif. Sebaliknya, 9,6 persen sisanya lima tahun ke depan.

“Dulu kertas kita ekspornya baik ke UEA tapi menurun di tahun belakangan karena berbagai sebab. Ini perhatian saya. Ini akan diberikan pada kesempatan pertama. Selain itu ada produk sawit, alas kaki, batu bara, sabun, mentega, ban, baterai, yang bakal dikenakan 0 persen tarif pada awal pemberlakuan,” ujar Djatmiko dalam media briefing IUAE-CEPA secara virtual, Senin (4/6/2022).

Dikatakannya, total perdagangan Indonesia–UEA pada 2021 mencapai US$4,0 miliar atau meningkat 37,88 persen dibandingkan 2020 sebesar US$2,9 miliar. Meskipun sempat turun pada 2019–2020, di tengah pandemi Covid-19, nilai perdagangan bilateral kembali naik signifikan.

Berdasarkan analisis Cost Benefitdan Prognosa IUAE–CEPA, dalam 10 tahun sejak entry into force (EIF), ekspor Indonesia ke UEA diproyeksikan meningkat US$844,4 juta atau meningkat 53,90 persen. Selain itu, impor Indonesia dari UEA juga diproyeksikan meningkat sebesar 307,3 juta atau sekitar 18,26 persen.

“Dengan adanya IUAE-CEPA diproyeksikan ekspor kita meningkat 3 kali lipat,” ucapnya.

Dia juga mengatakan ada beberapa target yang harus diselesaikan untuk implementasi IUAE-CEPA. Pertama, adalah menyelesaikan proses ratifikasi yang harus selesai dua bulan sebelum dilaksanakan.

“Kemudian akan meberi notifkasi ke UEA begitupun mereka juga akan melakukan notifikasi. Lalu 30-36 hari sebelum pemberlakukan. Kemudian, penetapan tarif, peraturan Kemenkeu soal asal barang itu selesai. Maka bisa 1 Januari 2023 bisa dilaksanakan,” tuturnya.

Djatmiko menjelaskan perjanjian dagang yang diteken Mendag Zulkifli Hasan pada 1 Juli itu juga akan segera disosialisasikan kepada beberapa lembaga dan pihak terkait. Mulai dari eksportir, importir, akademisi di perguruan tinggi dan pemerintah daerah.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

Indeks Manufaktur Bulan Juli Terdongkrak Program P3DN

Selasa, 2 Agustus 2022 | 14:35 WIB

Astra Group Catat Laba Semester I Naik 106%

Kamis, 28 Juli 2022 | 17:41 WIB
X