• Senin, 15 Agustus 2022

Di Komisi V DPR Dirut Perum Damri Curhat Soal Angkutan Perintis

- Rabu, 29 Juni 2022 | 16:56 WIB
Satu unit bus Damri Cabang Mataram melintasi trayek perintis menuju salah satu desa terpencil di Pulau Sumbawa, NTB. (Awaluddin)
Satu unit bus Damri Cabang Mataram melintasi trayek perintis menuju salah satu desa terpencil di Pulau Sumbawa, NTB. (Awaluddin)

SINAR HARAPAN - Direktur Utama Perum Damri Setia N. Milatia Moemin mengungkapkan sejumlah kendala angkutan perintis, di mana salah satunya terkait pola pemberian subsidi

Milatia menjelaskan merujuk pada SK Dirjen Perhubungan Darat tahun 2007, pola pemberian subsidi angkutan perintis dan angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) itu menggunakan pola selisih antara pengoperasian yang dikeluarkan dengan pendapatan operasional yang diperoleh.

"Jadi ada penerapan tarif dengan perbandingan 70 persen disubsidi, dan 30 persen operator harus mendapatkan pendapatan tersendiri. Tidak full recovery. Padahal load factor pada angkutan perintis dan KSPN seperti biasa, sulit untuk mencapai 30 persen karena daerah tersebut di Indonesia timur, di mana di distrik tertentu dan daerah terluar, populasi juga sedikit," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu 29 Juni 2022.

Milatia menilai untuk memindahkan 30 persen dari total populasi menjadi tantangan tersendiri. Dengan demikian, hal itu berdampak pada tidak terpenuhinya penagihan biaya pengoperasian secara keseluruhan.

"Tetapi pada 2022, akhirnya SK Dirjen 2007 ini diubah dan akan diberlakukan tahun depan. Mudah-mudahan dengan struktur BOK (Biaya Operasi Kendaraan) yang baru, kita bisa melakukan kinerja yang lebih baik," katanya.

Milatia melanjutkan performa angkutan perintis kurang maksimal karena faktor usia kendaraan di tengah kondisi medan yang berat dan sulit.

"Kadang harus masuk air. Jalanannya rata-rata offroad. Contoh di Papua yang melingkar itu sudah bagus, tapi masuk ke dalam jalannya banyak offroad dan daerah terluar pun hampir sama," katanya.

Kerusakan akibat kondisi jalan itu menyebabkan lebih cepat pemakaian suku cadang dan ban sehingga kinerja angkutan tidak maksimal.

"Di angkutan perintis, terus terang Damri tidak bisa melakukan investasi karena biaya investasi belum dimasukkan ke dalam biaya operasi kendaraan. Tapi mudah-mudahan di tahun depan dengan digantinya SK Dirjen, kami bisa masukkan," katanya.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Harga Batu Bara Melonjak, Stok PLN Aman?

Senin, 15 Agustus 2022 | 18:38 WIB

Utang Luar Negeri RI Turun Perlahan Tapi Pasti

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:38 WIB

Ribuan UMKM Akan Mengikuti Surabaya Great Expo 2022

Rabu, 10 Agustus 2022 | 20:46 WIB

Indeks Manufaktur Bulan Juli Terdongkrak Program P3DN

Selasa, 2 Agustus 2022 | 14:35 WIB
X