• Jumat, 19 Agustus 2022

Terkoreksi 44 Poin, Harga Minyak Diprediksi Tetap di Atas US$110 per Barel

- Rabu, 29 Juni 2022 | 09:49 WIB
Arsip Foto - Seorang anak laki-laki berjalan melewati kereta tanker minyak yang ditempatkan di stasiun kereta api di Ghaziabad, di pinggiran New Delhi, India, Jumat (1/2/2019). (Anushree Fadnavis)
Arsip Foto - Seorang anak laki-laki berjalan melewati kereta tanker minyak yang ditempatkan di stasiun kereta api di Ghaziabad, di pinggiran New Delhi, India, Jumat (1/2/2019). (Anushree Fadnavis)

SINAR HARAPAN - Harga minyak turun pada awal perdagangan di Asia pada Rabu 29 Juni 2022 pagi, setelah naik dalam tiga sesi sebelumnya tetapi kerugian terbatas di tengah pandangan bahwa pengetatan pasokan global akan berlanjut karena ada ruang terbatas bagi produsen utama seperti Arab Saudi untuk meningkatkan produksi.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Agustus turun 44 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 111,32 dolar AS per barel pada pukul 01.50 GMT, menghentikan kenaikan sebelumnya.

Minyak mentah berjangka Brent untuk Agustus melemah 61 sen atau 0,5 persen, menjadi diperdagangkan di 117,37 dolar AS per barel, juga membalikkan kenaikan sebelumnya. Kontrak Agustus akan berakhir pada Kamis (30/6/2022) dan kontrak September yang lebih aktif berada di 113,14 dolar AS, turun 66 sen atau 0,6 persen.

Baik Brent maupun WTI naik lebih dari 2,0 persen pada Selasa (28/6/2022) karena kekhawatiran atas ketatnya pasokan global melebihi kekhawatiran bahwa permintaan dapat melambat dalam potensi resesi di masa depan. Kesepakatan oleh kekuatan ekonomi Kelompok Tujuh (G7) untuk mengeksplorasi cara-cara guna membatasi harga minyak Rusia juga mendukung sentimen pasar.

"Investor membuat penyesuaian posisi, tetapi tetap bullish pada ekspektasi bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak akan dapat meningkatkan produksi secara signifikan untuk memenuhi permintaan yang pulih, didorong oleh peningkatan bahan bakar jet," kata Hiroyuki Kikukawa, manajer umum dari penelitian di Nissan Securities.

"Harga minyak kemungkinan akan tetap di atas 110 dolar AS per barel, juga di tengah kekhawatiran potensi gangguan pasokan akibat badai saat Amerika Serikat memasuki musim panas," katanya.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dilihat sebagai satu-satunya dua anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan kapasitas cadangan untuk menebus pasokan Rusia yang hilang dan produksi yang lemah dari negara-negara anggota lainnya.

Tetapi Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei mengatakan pada Senin (27/6/2022) bahwa emirat itu memproduksi mendekati kapasitas maksimum kuotanya 3,168 juta barel per hari (bph) berdasarkan perjanjian dengan OPEC+dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC+.

Komentarnya mengkonfirmasi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden di sela-sela pertemuan G7 bahwa Uni Emirat Arab berproduksi pada kapasitas maksimum dan bahwa Arab Saudi dapat meningkatkan produksi hanya 150.000 barel per hari, di bawah kapasitas cadangan sekitar 2 juta barel per hari.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: Antara

Tags

Terkini

IHSG Terkoreksi, Saham SMGR Masuk Top Losers

Jumat, 19 Agustus 2022 | 16:24 WIB

IHSG Hijau! Saham ADRO, ADMR, dan CRAB Menguat

Jumat, 19 Agustus 2022 | 13:11 WIB

Tren Harga Emas Masih Turun Hari Ini

Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:43 WIB

Perkuat Lini Bisnis! CENT Akuisisi 289 Menara

Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:46 WIB

BRIS Akan Rights Issue, Efek Dilusi 12,73 Persen

Kamis, 18 Agustus 2022 | 19:55 WIB

Migas Aman, Pertamina Temukan Cadangan Minyak Terbaru

Kamis, 18 Agustus 2022 | 12:55 WIB

Wah, Harga Emas Antam Turun Lagi!

Kamis, 18 Agustus 2022 | 09:33 WIB

Bursa Asia Ditutup Hijau! IHSG Hari Ini Bagaimana?

Kamis, 18 Agustus 2022 | 07:32 WIB
X