• Selasa, 6 Desember 2022

Harga Minyak Melorot Lebih Dari US$ 2 per Barel di Asia, Ini Pemicunya

- Senin, 13 Juni 2022 | 09:33 WIB
Ilustrasi - Labirin pipa dan katup minyak mentah yang digambarkan selama tur oleh Departemen Energi di Cadangan Minyak Strategis di Freeport, Texas, AS, Kamis (9/6/2016).  (Richard Carson)
Ilustrasi - Labirin pipa dan katup minyak mentah yang digambarkan selama tur oleh Departemen Energi di Cadangan Minyak Strategis di Freeport, Texas, AS, Kamis (9/6/2016). (Richard Carson)

SINAR HARAPAN - Harga minyak tergelincir lebih dari dua dolar AS di awal perdagangan Asia pada Senin 13 Juni 2022, karena meningkatnya kasus COVID-19 di Beijing memadamkan harapan akan peningkatan cepat dalam permintaan bahan bakar China, sementara kekhawatiran tentang inflasi global dan pertumbuhan ekonomi semakin menekan pasar.

Minyak mentah berjangka Brent merosot 2,06 persen atau 1,7 persen, menjadi diperdagangkan di 119,95 dolar AD per barel pada pukul 00.33 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di 118,54 dolar AS per barel, jatuh 2,13 dolar AS atau 1,8 persen.

Harga minyak jatuh setelah pejabat China memperingatkan pada Minggu (12/6/2022) tentang penyebaran COVID "ganas" di ibu kota dan mengumumkan rencana untuk melakukan pengujian massal di Beijing hingga Rabu (15/6/2022).

Kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga lebih lanjut menyusul kenaikan tajam data inflasi AS pada Jumat (10/6/2022) juga membebani pasar keuangan global.

"Kekhawatiran greenback dan stagflasi yang lebih kuat terbukti menjadi kehancuran pasar bullish," Stephen Innes dari SPI Asset Management mengatakan dalam sebuah catatan.

"China tetap menjadi risiko penurunan jangka pendek yang signifikan, tetapi sebagian besar memandang normalisasi bertahap permintaan China sebagai hal positif yang kuat untuk minyak meskipun ada potensi kebisingan penguncian dalam beberapa minggu mendatang karena permintaan saat ini jauh dari kondisi normal."

Kedua patokan minyak global naik lebih dari 1,0 persen minggu lalu setelah data menunjukkan permintaan minyak yang kuat di konsumen utama dunia, Amerika Serikat, meskipun ada kekhawatiran inflasi dan perkiraan bahwa konsumsi di China - konsumen nomor dua dunia - bisa rebound setelah tindakan penguncian dicabut mulai 1 Juni.

Para produsen dan kilang minyak menjalankan kecepatan penuh untuk memenuhi permintaan puncak musim panas, sementara para pedagang mengamati dengan cermat kemungkinan dampak dari perselisihan perburuhan di Libya, Norwegia dan Korea Selatan tentang ekspor dan konsumsi minyak.

Untuk meningkatkan pasokan di Barat, Arab Saudi, eksportir utama dunia, berencana untuk mengalihkan beberapa minyak mentah ke Eropa dari China pada Juli, kata para pedagang. ***

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Siap IPO Bulan Ini, ISAP Tambah Mesin Produksi

Senin, 5 Desember 2022 | 11:14 WIB

PUPR Siap Operasikan Bendungan Ciawi dan Sukamahi

Senin, 5 Desember 2022 | 07:13 WIB

REI Siap Jajaki Investasi di IKN Nusantara

Minggu, 4 Desember 2022 | 10:21 WIB
X