• Jumat, 12 Agustus 2022

Bank Dunia: Banyak Negara Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi

- Rabu, 8 Juni 2022 | 10:00 WIB
Foto Dokumen: Kapal kontainer Maersk Line, Maersk Batam berlayar di Bosphorus, dalam perjalanannya ke Laut Mediterania, di Istanbul, Turki 10 Agustus 2018.  (Murad Sezer)
Foto Dokumen: Kapal kontainer Maersk Line, Maersk Batam berlayar di Bosphorus, dalam perjalanannya ke Laut Mediterania, di Istanbul, Turki 10 Agustus 2018. (Murad Sezer)

SINAR HARAPAN - Bank Dunia pada Selasa (7/6) memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya hampir sepertiga menjadi 2,9 persen untuk 2022, memperingatkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah menambah kerusakan akibat pandemi COVID-19, dan banyak negara sekarang menghadapi resesi.

Perang di Ukraina telah memperbesar perlambatan ekonomi global, yang sekarang memasuki apa yang bisa menjadi "periode pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang berlarut-larut," kata Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global, memperingatkan bahwa prospek masih bisa tumbuh lebih buruk.

Dalam konferensi pers, Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan pertumbuhan global bisa turun menjadi 2,1 persen pada 2022 dan 1,5 persen pada 2023, mendorong pertumbuhan per kapita mendekati nol, jika risiko penurunan terwujud.

Malpass mengatakan pertumbuhan global sedang dihantam oleh perang, penguncian COVID baru di China, gangguan rantai pasokan dan meningkatnya risiko stagflasi - periode pertumbuhan lemah dan inflasi tinggi yang terakhir terlihat pada 1970-an.

"Bahaya stagflasi cukup besar hari ini," tulis Malpass dalam kata pengantar laporan tersebut. "Pertumbuhan yang lemah kemungkinan akan bertahan sepanjang dekade karena investasi yang lemah di sebagian besar dunia. Dengan inflasi yang sekarang berjalan pada level tertinggi selama beberapa dekade di banyak negara dan pasokan diperkirakan tumbuh lambat, ada risiko bahwa inflasi akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama."

Antara 2021 dan 2024, laju pertumbuhan global diproyeksikan melambat sebesar 2,7 poin persentase, kata Malpass, lebih dari dua kali perlambatan yang terlihat antara 1976 dan 1979.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi pada akhir 1970-an begitu curam sehingga memicu resesi global pada 1982, dan serangkaian krisis keuangan di pasar negara-negara emerging market dan berkembang.

Ayhan Kose, direktur unit Bank Dunia yang menyiapkan prakiraan tersebut, mengatakan kepada wartawan bahwa ada "ancaman nyata" bahwa pengetatan kondisi keuangan yang lebih cepat dari perkiraan dapat mendorong beberapa negara ke dalam jenis krisis utang yang terlihat pada 1980-an.

Meskipun ada kesamaan dengan kondisi saat itu, ada juga perbedaan penting, termasuk kekuatan dolar AS dan harga minyak yang umumnya lebih rendah, serta neraca yang umumnya kuat di lembaga keuangan besar.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Ribuan UMKM Akan Mengikuti Surabaya Great Expo 2022

Rabu, 10 Agustus 2022 | 20:46 WIB

Indeks Manufaktur Bulan Juli Terdongkrak Program P3DN

Selasa, 2 Agustus 2022 | 14:35 WIB
X