• Jumat, 27 Mei 2022

Sekjen PAN: Stimulus Pemerintah Terkunci di Bawah Bantal

- Minggu, 4 Oktober 2020 | 22:46 WIB
Eddy Soeparno
Eddy Soeparno

JAKARTA - Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menilai sejumlah stimulus pemerintah yang dikucurkan melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN), belum mampu mendongkrak kinerja ekonomi Indonesia.

"Perdebatannya saat ini bukan lagi seputar masuk tidaknya Indonesia ke dalam resesi, tetapi seberapa dalam resesi yang akan kita hadapi dan bagaimana kita secepatnya memutar balik kondisi perekonomian Indonesia," kata Eddy dalam acara diskusi bertajuk "Solusi Resesi Ekonomi dan Antisipasi Krisis Keuangan: Update Ekonomi Triwulan III-2020" yang diselenggarakan Narasi Institute secara virtual di Jakarta, Minggu (4/10/2020) malam.

Menurut Eddy, sejumlah stimulus yang dikucurkan seperti gaji ke-13 PNS, subsidi gaji sebesar Rp 600 ribu per bulan, bantuan tunai dan lain-lain, tidak mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari jurang resesi.
"Stimulus yang dikucurkan ternyata belum mampu mendongkrak kinerja ekonomi karena uangnya tidak beredar namun terkunci di bawah bantal atau tabungan. Penerima bantuan cenderung berhemat dan mengamankan sedikit uang yang dimiliki untuk berjaga-jaga jika kondisi akibat pandemi memburuk," ungkapnya.

Dia menambahkan, kondisi ini dipersulit dengan perilaku kaum menengah yang juga cenderung menahan pengeluaran. "Disposable income tidak dimanfaatkan untuk kegiatan yang secara cepat bisa memutar roda perekonomian, seperti belanja hiburan, berwisata, meski transaksi online relatif meningkat. Hal ini terbukti dengan meningkatnya simpanan masyarakat sebesar 6,1 persen sejak awal tahun 2020 atau senilai Rp 313 triliun," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dari total pagu program PEN tahun 2020 sebesar Rp 695,2 triliun, hingga tanggal 23 September realisasi penyerapannya baru sebesar Rp 268,30 Trilun atau 38,6 persen.

Dari jumlah tersebut, anggaran untuk perlindungan sosial merupakan anggaran yang penyerapannya paling besar yakni mencapai 66,90 persen dari pagu sebesar Rp 203,91 triliun. Kedua, anggaran UMKM yang penyerapannya mencapai 48,44 persen dari pagu Rp 123,47 triliun. Ketiga, anggaran kesehatan yang baru mencapai 23,67 persen dari pagu Rp 87,55 triliun.

Keempat, anggaran insentif usaha yang realisasinya mencapai 22,89 persen dari pagu Rp 120,61 triliun. Kelima, anggaran pembiayaan korporasi yang masih nol persen dari pagu Rp 53,57 triliun. (E-3)

 

Editor: editor3

Tags

Terkini

X