• Selasa, 6 Desember 2022

Mengapa Utang Dirisaukan

- Senin, 11 Maret 2019 | 12:00 WIB
Ilustrasi Utang Luar Negeri.
Ilustrasi Utang Luar Negeri.

Oleh: Fauzi Aziz

CERITA tentang utang menarik dibahas karena sekarang ini masalah utang bukan lagi  menjadi beban negara-negara berkembang saja, tetapi juga menjadi beban dari negara-negara maju. Artinya utang telah menjadi masalah dunia seutuhnya.

Utang dirisaukan karena dapat menimbulkan beban berat bagi yang berutang. Apalagi kalau utangnya men jadi overborrowing yang akibatnya menjadi overlanding, yang menyebabkan utang banyak dirisaukan.

Selain itu juga yang  sudah umum banyak diketahui adalah bahwa  konsekuensi akibat beban utang yang menggunung bisa sangat dramatis dampaknya, seperti yang terjadi pada tahun 2008 saat Uni Eropa (UE) menghadapi krisis utang.

Sebagai informasi dapat dicatat bahwa pada akhir tahun 2012, jumlah utang jangka pendek negara-negara UE yang jatuh tempo sekitar 1,1 triliun euro atau setara Rp 13.200 triliun Problemnya adalah bahwa di saat itu, dana cadangan yang tersedia di European Financial Stability Facilities (EFSF) hanya sekitar 400 miliar euro atau setara Rp 5.280 triliun. Analis keuangan saat itu sampai membuat prediksi bahwa jikapun EFSF punya dana cadangan 1 triliun euro tidak akan mampu mengatasi ledakan utang hanya di dua negara saja, yakni Spanyol dan Italia, apalagi untuk seluruh negara-negara UE. 

Banyak pihak mengatakan bahwa utang tidak bisa dihindari sepanjang dananya dipakai untuk hal-hal yang bersifat produktif. Sepakat dengan pandangan ini asal tidak overborrowing dan overlanding. Negara yang rajin berutang umumnya karena mengalami kekurangan likuiditas untuk membangun atau agar investasi pemerintah  dapat dilakukan secara optimal untuk merealisasikan proyek-proyek strategis nasional yang economic outcome-nya tinggi, seperti pada pembangunan infrastruktur, pembangunan industri pionir dan sektor ekonomi lainnya. 

Di lain pihak, berapa pun besarnya beban utang yang harus dipikul, semua negara yang berutang pasti berupaya untuk menghindari kegagalan dalam pengangsuran karena beban pengangsuran utang sering kali mengakibatkan negara-negara pengutang  harus mengorbankan progam-progam pendidikan dan kesehatan atau progam jaring pengaman sosial, dan kesejahteraan rakyatnya.

Sekali lagi inilah mengapa ketika hampir semua pihak sangat merisaukan saat komitmen utang negara terus menerus bertambah meskipun rationya terhadap PDB masih jauh di bawah ambang batas aman yakni 60% dari PDB. Apalagi yang ratio utangnya sudah di atas 60% dari PDB seperti yang dialami oleh negara-negara uni eropa. 

Negara yang masih terus berutang tentu harus bisa menjaga kredibilitasnya agar kreditur, dan pelaku pasar percaya bahwa kondisi perekomomian negara pengutang kondisinya baik. Di antaranya adalah harus memilki cadangan devisa yang cukup besar.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Siap IPO Bulan Ini, ISAP Tambah Mesin Produksi

Senin, 5 Desember 2022 | 11:14 WIB

PUPR Siap Operasikan Bendungan Ciawi dan Sukamahi

Senin, 5 Desember 2022 | 07:13 WIB

REI Siap Jajaki Investasi di IKN Nusantara

Minggu, 4 Desember 2022 | 10:21 WIB
X