• Jumat, 7 Oktober 2022

Pemerintah Jalin Kolaborasi Bisnis dengan Jepang

- Rabu, 8 Agustus 2018 | 14:37 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishil dan Utusan Khusus Presiden untuk Jepang Rahmat Gobel saat meresmikan IJB-Net di Jakarta.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishil dan Utusan Khusus Presiden untuk Jepang Rahmat Gobel saat meresmikan IJB-Net di Jakarta.

JAKARTA - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Rabu (8/8/2018) meresmikan organisasi kolaborasi bisnis Indonesia -Japan Business Network (IJB Net) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Menurut dia, IJB-Net hadir pada saat yang tepat di mana, pemerintah Indonesia sedang merancang pembentukan Komite Industri Nasional (KINAS), yang fokus kegiatannya adalah mengembangkan industri manufaktur yang memiliki daya saing global 4.0 terhadap indusri kecil menengah.

"Karenanya, kami sangat mendukung kehadiran lembaga ini, dengan harapan hubungan bisnis kedua negara dapat berkembang, terutama Industri manufaktur dari kedua negara," ujarnya.

Selain itu, IJB-Net juga akan terus mendorong kolaborasi bersama negara matahari tersebut, terutama dalam meningkatkan usaha kecil menengah agar berkembang dalam perindustrian global.

"Tentunya IJB-Net ini akan mendorong Small and Medium Entreprises, karena ini terdiri dari diaspora Indonesia yang ada di Jepang, dan juga diaspora Jepang yang ada di Indonesia. Mereka berkolabirasi mendukung untuk bekerjasama antar pengusaha Indonesia dan Jepang," katanya.

Berdasarkan data dari Bank of Japan for International Cooperation pada tahun 2013 negara yang paling diminati oleh industri manufaktur jepang adalah Indonesia.  Namun dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Hingga terakhir pada 2017 lalu, Indonesia menempati urutan bawah yang dikalahkan oleh China, India, Vietnam dan Thailand.

Sedangkan data dari Trade Statistics of Japan, Ministry of Finance pada 1990, angka total impor dari Indonesia pernah menduduki posisi nomor 2, dengan perolehan angka US$ 18 miliar atau 5,4 persen. Kemudian 10 tahun berikutnya, di tahun 2000 angka impor Indonesia ke Jepang turun ke posisi ke-5 sebesar US$ 17,7 miliar atau 4,3 persen.

Tahun 2010 turun kembali ke posisi ketujuh sebesar US$ 24,8 miliar atau 4,1 persen. Namun mulai 2015 hingga 2017, Indonesia sudah tidak masuk ke-10 besar negara importir Jepang.

Menurut Ketua Umum IJB-Net, Suyoto Rais, Indonesia saat ini masih mengadapi persoalan "Middle Hollow" antara hulu dan hilir. Karena Indonesia belum memiliki perkembangan tekhnologi yang mumpuni, sehingga produk-produk yang dihasilkan belum memberikan nilai tambah yang baik.

Halaman:

Editor: editor2

Tags

Terkini

BI Siap Kuatkan Ekosistem Global Halal Hub

Kamis, 6 Oktober 2022 | 13:56 WIB

Turun Sejak Agustus, Saham SCMA Siap Rebound?

Kamis, 6 Oktober 2022 | 13:05 WIB

Penerimaan Pajak Januari-Agustus Tumbuh 58,1%

Kamis, 6 Oktober 2022 | 11:27 WIB

Mendag: Ekportir Harus Tingkatkan Kualitas Produk

Kamis, 6 Oktober 2022 | 11:06 WIB

Harga Emas Berbalik Melemah, Ada Apa?

Kamis, 6 Oktober 2022 | 10:55 WIB

IHSG Naik Tipis, Saham COAL Berhasil Rebound

Rabu, 5 Oktober 2022 | 18:58 WIB
X