• Selasa, 26 September 2023

Pertamina Cetak Pendapatan Tertinggi Sepanjang Sejarah Perseroan, Bukukan Laba Bersih 3,81 Miliar Dolar AS

- Rabu, 7 Juni 2023 | 07:06 WIB
Pertamina Cetak Pendapatan Tertinggi Sepanjang Sejarah Perseroan, Bukukan Laba Bersih 3,81 Miliar Dolar AS. (foto: teknoplay)
Pertamina Cetak Pendapatan Tertinggi Sepanjang Sejarah Perseroan, Bukukan Laba Bersih 3,81 Miliar Dolar AS. (foto: teknoplay)

SINAR HARAPAN - PT Pertamina (Persero) sukses cetak pendapatan tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Perseroan dengan membukukan laba bersih sebesar 3,81 miliar dolar AS atau setara dengan Rp56,61 triliun pada tahun 2022.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut menandai peningkatan 86 persen dibandingkan laba bersih pada 2021 yang tercatat 84,89 miliar dolar AS atau setara Rp1.262,34 triliun.

“Tahun 2022 bisa kita tutup dengan kinerja tertinggi dalam sejarah Pertamina, kita membukukan keuntungan 3,81 miliar dolar AS ekuivalen Rp56,61 triliun, revenue meningkat 48 persen menjadi 85 miliar dolar AS, jadi ini sekitar ⅓ nya dari APBN," kata Nicke dalam "Media Briefing Capaian Kinerja 2022 PT Pertamina (Persero)" yang digelar di Graha Pertamina di Jakarta, Selasa 6 Juni 2023.

Baca Juga: Menperin Jajaki Kerja Sama Pengembangan Industri Bioteknologi Dengan Perusahaan Jepang

Nicke pun memaparkan pendapatan Pertamina secara keseluruhan sebesar 84,89 miliar dolar AS atau setara Rp1.262,34 triliun.

Untuk Pendapatan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi atau EBITDA sebesar 13,59 miliar dolar AS atau setara Rp202,14 triliun.

EBITDA Perseroan mengalami kenaikan sebesar 47 persen secara tahunan (yoy).

Baca Juga: Kinerja Cemerlang, Laba Bersih VTNY Melesat 148 Persen

Nicke menegaskan pencapaian tersebut bukan hanya suatu kebetulan (windfall) atau pengaruh lonjakan komoditas harga minyak mentah Indonesia atau ICP, melainkan karena faktor kontribusi para staf dan efektifitas biaya (cost).

“Ada yang mengatakan, oh ini kan karena pengikatan karena ICP, kalau dikatakan bahwa kurs itu tinggi, kita pernah mengalami kurs tinggi juga di beberapa tahun. Kita ICP juga pernah di atas 100, tapi pencapaian tidak demikian, kalau kita liat yang paling memberikan kontribusi sebetulnya di cost, kalau kita lihat, persen dari biaya di tahun 2012, tahun 2014 sekitar 93-94 persen, tapi di tahun 2022 ini hanya 89 persen itu ada penghematan 4 persen sampai 5 persen," ujar Nicke.***

Editor: Yuanita SH

Sumber: ANTARA, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Logistik Pertama Untuk Ajang MotoGP Tiba di Mandalika

Minggu, 24 September 2023 | 21:04 WIB

Optimalkan Operasional Tambang, SMGR Gunakan QMCC

Minggu, 24 September 2023 | 15:46 WIB
X