Dihadapkan Berbagai Tantangan, IMF Proyeksikan Ekonomi RI di 2023 Menurun

- Sabtu, 25 Maret 2023 | 08:18 WIB
Dihadapkan Berbagai Tantangan, IMF Proyeksikan Ekonomi RI di 2023 Menurun. (Instagram/@puremarketinsight)
Dihadapkan Berbagai Tantangan, IMF Proyeksikan Ekonomi RI di 2023 Menurun. (Instagram/@puremarketinsight)

SINAR HARAPAN - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia sedikit menurun pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, masih tetap di angka 5 persen didukung oleh menguatnya permintaan ekspor.

"Pemulihan yang lebih cepat di Tiongkok atau meredanya tekanan inflasi global dapat memperkuat permintaan ekspor Indonesia," kata Asisten Direktur Departemen Western Hemisphere IMF, Cheng Hoon Lim, dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu 25 Maret 2023.

Meskipun demikian, Lim mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sedikit menurun dari capaian tahun 2022 sebesar 5,3 persen (yoy) lantaran didukung oleh harga yang tinggi untuk sebagian besar ekspor komoditas Indonesia.

Baca Juga: Terima Laporan Keuangan Pemprov DKI, BPK: Wajar Tanpa Pengecualian

Hal itu disebabkan oleh beberapa tantangan seperti pengetatan kondisi keuangan global secara tiba-tiba atau perlambatan global yang melemahkan neraca perdagangan dapat menekan rupiah.

Selain itu, intensifikasi ketegangan geopolitik dapat mengganggu rantai pasokan dan memperkuat tekanan inflasi. Harga komoditas dunia saat ini juga telah kembali normal di tengah pengaturan kebijakan yang lebih ketat.

Namun, Lim menilai langkah otoritas Indonesia yang menggunakan ruang kebijakan moneter dan fiskal secara fleksibel telah mampu untuk memperlancar penyesuaian ekonomi terhadap guncangan global yang signifikan.

Baca Juga: CELIOS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal 1/2023 Tak Mencapai 5%

“Kebijakan Indonesia yang masuk akal, berwawasan ke depan, dan terkoordinasi dengan baik membantunya menutup lingkungan global yang sangat menantang di tahun 2022 dengan pertumbuhan yang sehat, penurunan inflasi, dan sistem keuangan yang stabil dan menguntungkan," ungkapnya.

Pemerintah Indonesia, menurut Lim, juga telah berhasil menekan defisit anggaran 2022 ke bawah level 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), yakni tepatnya di level 2,4 persen PDB, satu tahun lebih cepat dari jadwal.

Harga komoditas yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat serta Undang-Undang Harmonisasi Pajak yang baru membantu meningkatkan penerimaan pajak. Kenaikan harga bahan bakar yang tepat waktu pada bulan September 2022 turut membantu membendung tagihan subsidi yang meningkat.

Baca Juga: Saham COAL Kembali Menguat, Siap Bullish?

"Ke depan, kebijakan fiskal pada tahun 2023 harus tetap netral secara luas, sehingga memungkinkan Indonesia untuk terus memenuhi kebutuhan pembangunannya dengan tetap menjaga kredibilitas kebijakan," ujar Lim.***

Editor: Yuanita SH

Sumber: ANTARA, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X