Tuntaskan Penjelajahan Dunia

Pin It

Ride for Peace /

Salah satu spot khas yang menjadi ciri Australia.

Jeffrey Polnaja, penjelajah dunia seorang diri dengan sepeda motor asal Indonesia, Sabtu (25/7) , telah mencapai Timor Leste, negara tujuan terakhir misi Ride for Peace (RFP). Pria kelahiran Bandung,

Jeffrey mengaku sangat bersyukur bisa menyelesaikan tahapan penjelajahan yang cukup berat di Australia. Ia menilai petualangan di Negara Kanguru itu sebagai puncak penjelajahan RFP kedua. Berbagai lintasan panjang dengan medan ekstrem dan cuaca buruk telah dihadapi pria yang akrab disapa Kang JJ ini. 

“Saya bersyukur masih diberikan kekuatan menjalani misi Ride for Peace. Benua Australia, walaupun dekat dengan Indonesia, telah memberikan nilai baru dalam hidup saya,” ujarnya. 

“Nilai tantangan serta pengalaman di Australia tidak saya temukan di negara-negara lain yang telah saya singgahi sejak Ride for Peace pertama dan kedua ini. Benua ini memiliki tantangan alam dan budaya tersendiri,” ucap pria yang masih ditemani Silver Line, sepeda motor BMW R 1150 GS bernomor polisi B 5010 JP.

Jeffrey menegaskan petualangan dengan kendaraan roda dua di Australia tak sekadar menuntut stamina prima. “Banyak teman menyarankan kepada saya untuk mengenali budaya-budaya setempat, khususnya dari suku-suku Aborigin, agar tidak mengalami masalah di luar pemikiran kita. Karena itu, saya berusaha selalu menghormati budaya mereka dan tak segan-segan mengajukan izin kepada pemegang kuasa adat Aborigin di sebuah wilayah sebelum memasuki kawasannya,” kata Jeffrey.

Jeffrey masuk ke Australia setelah mampu mencapai kota paling selatan di muka bumi, Ushuaia, Argentina, lalu kembali ke utara menuju Gurun Atacama Santiago, Cile, awal tahun ini. Dari benua Amerika ini ia mengapalkan “Silver Line” menuju Sydney, Australia yang tiba pada Maret 2015. “Saya sempat mengunjungi Selandia Baru dan menjelajah North Island sampai Auckland. Tidak lama, karena Selandia Baru tidak luas,” katanya. 

Petualangan Penuh Tantangan
Baginya, Australia telah memberikan kesan tantangan petualangan penting. Negara satu benua ini menyimpan beragam keunikan alam dan budaya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih untuk pengendara kendaraan roda dua seperti dirinya. Tidak kurang dari 11.500 km, tidak sedikit di antara lintasan itu berpermukaan tanah, dilalui dengan penuh risiko. 

Jalur penjelajahan RFP di Australia yang dijalani Jeffrey nyaris tiga perempat dari rute reli klasik Mobilgas Around Australia Rally pada 1958 (sekitar 16.500 km), sebuah kejuaraan balap ekstrem memutari garis pantai benua Australia searah putaran jarum jam. 

Bedanya, Jeffrey tidak menyusuri pesisir pantai menuju Perth, Australia Barat, dan menjelajahi garis pantai di sepanjang Darwin, Teritorial Utara hingga Brisbane di wilayah Queensland. Tapi, Jeffrey justru mengambil lintasan berisiko besar ke Alice Spring di Australia Utara dari Adelaide, Australia Selatan hingga menembus Leonora, Australia Barat yang tidak menjadi tahapan Australia Rally.

“Bagian tengah dari benua Australia saya anggap sebagai kawasan penting yang perlu dikunjungi Ride for Peace. Alice Spring boleh disebut sebagai titik tengah benua Australia. Di sepanjang perjalanan dari Adelaide ke Alice Spring hingga Leonora, saya sempat melalui wilayah-wilayah tidak berpenghuni atau yang hanya ditempati suku-suku Aborigin. Ini tantangan tersendiri,” tuturnya.

Salah satu jalur menantang yang dilalui Jeffrey adalah Great Central Road, sebuah ruas terkenal di Australia; jalannya masih berpermukaan tanah sepanjang hampir 1.200 km. Untuk melalap lintasan sepanjang itu Jeffrey mengaku menghabiskan waktu tiga hari, sebuah perjalanan yang termasuk singkat karena dilalui seorang diri dengan sepeda motor.

Rintangan terbesar, menurutnya, adalah lintasan ekstrem, hewan liar, dan cuaca yang tidak terduga. Di beberapa titik lintasan yang dilalui bahkan bisa menenggelamkan roda-roda sepeda motor. Hewan liar juga bisa menyeruduk sewaktu-waktu. Bahkan, ia sempat mengalami terpaan hujan es yang sangat menyakitkan ketika menghantam tubuhnya.

“Saat siang suhu udara bisa antara 28-30 derajat Celsius, tapi malam tiba-tiba jatuh hingga minus 4-6 derajat Celsius,” ujar pengelana yang sempat mengunjungi makam pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia di Cowra, New South Wales ini. 

Sumber : Sinar Harapan